Posted on

Telat Menyadarinya part 1

Renata memercepat langkah kakinya dia tahu hari ini adalah hari dimana kelulusan diterimanya. Memang masih hasil kelulusan untuk SMP tapi ini penting baginya. Jika dia lulus dia bisa pergi menyusul Ayah dan Ibunya di luar kota. Sekitar satu bulang yang lalu Ibunya mengirim surat untuknya jika dia lulus maka Renata akan bersekolah dikota dimana kedua orang tuanya tinggal. Jadi, inilah kesempatan baginya menerima hasil kelulusan dengan hasil jerih payahnya sendiri tanpa ada orang tua disampingnya.

“Renata, Nat. Tunggu.” Sapa gadis berkulit putih berambut panjang yang seumuran dengan Renata. Renata menoleh, Sesil.

“Apa?” jawabnya ketus.

“Jangan ketus banget dong, aku Cuma pengen bareng ke kelas.” Jawab Sesil dengan senyum.

“Tinggal jalan disampingku aja repot. Tapi ada syaratnya.” Kata Renata jahil.

“Apa?”

“Aku gak bakalan nunggu jika kamu dirayu ataupun digoda penghuni kelas sebelah. Si Langit bulukan itu.”

“Iya.”

Mereka berjalan menuju kelas. Melewati lorong – lorong panjang, melewati tangga yang meliuk – liuk. Seorang pemuda seumuran dengan mereka bendiri dekat ujung tangga menuju kelas mereka.

“Selamat Pagi Sesil Cantik.” Sapa pemuda itu. Dia pintar memilih gadis cantik. Sesil memang cantik, rambut Sesil panjang, terurai lurus, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih. Tapi bukan itu berarti Renata tidak cantik. Renata hanya tak pandai untuk merawat dirinya, rambutnya hanya dikucir ataupun diikat menjadi satu. Dia juga tak pernah memakai bedak ataupun alat make up. Dia sederhana atau malas merawat diri? Ini berbeda dengan Sesil yang selalu rajin merawat dirinya.

“Pagi.” Seru Sesil ramah.

“Awas kalo lama – lama.” Cetus Renata.

“Eh, ada Renata ya? Pagi Renata.” Seru langit menyapa Renata dengan senyum.

“Pagi topi buluk.”

FLASH BACK

Pagi itu Renata sedang piket dia menemukan topi berwarna hitam yang ada disalah satu meja temannya. Topi itu sepertinya sudah tak layak pakai menurutnya. Okay, bentuk serta jahitannya masih utuh dan bagus, tapi kondisinya kotor. Pasti pemakai ataupun pemilik topi ini juga berniat membuangnya jika melihat kondisi topi yang kritis. Renata membuang topi itu kedalam tempat sampah yang dibawanya. Saat piket ataupun sedang sendiri Renata selalu mengunyah permen karet, kali ini dia sedang melakukan kebiasaan lamanya dengan permen karet rasa melon berwarna hijau.

Ketika permen yang dikunyahnya telah tak terasa melon dia membuangnya di tempat sampah yang dibawanya, tanpa sengaja bekasnya mengenai topi hitam itu. Setelah piket malah ada anak yang mencari topi itu Renata bilang kalau topi tersebut berada di tempat sampah dipojok kelas.

KEMBALI

“Sesil, nanti pulang sekolah ada waktu?” seru Langit.

“Maaf Sesil gak bisa. Nanti itu rencananya perpisahan kelas. Maaf ya Ngit.”

“Haaaaaahaaa. Sorry bang, Sesilnya sibuk. Heran aku sama kamu, kok topi itu gak kamu cuci masih ada tuh bekas permen karetku.” Ejek Renata. Renata bukannya tidak menyukai Langit dia hanya risih dengan kebiasaan Langit yang sedikit jorok. Renata juga pernah menaruh simpati kepada Langit yang sebenarnya juga termasuk murid berprestasi di sekolahnya. Langit dan Renata pernah menjuarai Olimpiade dibidang mereka masing – masing, Bahasa Inggris dan Biologi. Langit sendiri tak memasalahkan tingkah Renata, toh itu sudah menjadi pembawaan Renata sejak dulu.

Renata berjalan menuju kelas bersama Sesil, penghuni kelas dibawah pimpinan  Galaksi sedikit gaduh merayakan kelulusan. Galaksi sendiri sebagai kepala suku duduk dibangkunya membuat pesawat terbang dari kertas. Dan menerbangkannya kea rah Renata.

“Adoh, apaan ini?” seru Renata kesakitan terkena kertas pesawat terbang.

“Hasil kelulusanmu Nat, tenang itu duplikatnya yang asli masih ada di wali kelas. Kamu lulus Nat, walau hanya mendapat peringkat tiga.” Jelas Galaksi.

“Hah? Peringkat tiga hanya? Memang kamu dapat peringkat berapa?” pekik Renata.

“Aku sich peringkatnya gak terhitung tapi kan yang ngajarin kamu peringkat ketiga itu aku.” Cetus Galaksi sok pede.

“Dasar pantat ayam.” Balas Renata.

Setelah menerima hasil kelulusannya, Renata beranjak menyusun rencana perpisahan bersama teman – teman sekelasnya yang dipimpin sang kepala suku. Galaksi. Mereka sepertinya tak melakukan tradisi selayaknya anak – anak yang lulus sekolah. Corat – coret seragam. Mereka satu persatu menulis biodata mereka dibuku yang telah mereka bawa masing – masing tujuannya selain tak membuat kotor juga agar bisa mengenang tulisan tangan teman mereka dikelas.

“Teman – teman, uang khas kita masih ada nich? Enaknya dibuat apa?” seru sang kepala suku.

“Buat beli makanan aja. Kita makan – makan.” Seru penghuni kelas yang berperawakan gemuk.

“Aku gak setuju, jangan foya – foya dong. Kita sumbangkan untuk panti asuhan saja.” Seru salah satu siswi.

“Bagaimana kalau kita bagi dua? Sebagian untuk jajan sebagian untuk jariyah.” Tengah Galaksi. Dia memang bukan tipe orang yang suka ambil pusing akan masalah, dia selalu mengambil jalan tengah patut saja jika dua periode kelas mereka memilih Galaksi sebagai kepala suku.

“Terserah lo aja Gal.” seru salah satu penduduk kelas.

Disamping Sang Galaksi sedang memimpin rapat, Renata sibuk mengemasi lokernya memang tak ada barang yang mahal yang dia letakkan disana hanya saja bagi Renata buku – buku itu sangat penting. Banyak keinginan Renata yang harus dilupakan untuk membeli buku – buku tersebut. Buku biologi, ya sejak kelas satu dia sangat menyukai ilmu yang satu ini. Mungkin dia terinspirasi dengan sosok sang kakak, dulu kakaknya adalah murid kesayangan di SMP dimana Renata bersekolah saat kelas satu SMP kakaknya kelas tiga. Tapi memang mereka jarang bertemu di sekolah, Kakak Renata sering menghabiskan waktu bersama sang guru pendamping olimpiade biologi. Sekarang kakaknya sudah SMA, itupun tak lagi satu kota dengannya. Dia tinggal bersama kedua orang tua mereka.

“Ren, mau kamu bawa pulang buku – buku itu?” seru Sesil.

“Iyalah. Kalo aku tinggal bisa – bisa dibuat bungkus kacang sama tukang kebun. Kau tak membereskan lokermu?”

“Sudah. Aku tak menaruh buku sebanyak itu dilokerku. Hanya sedikit perlengkapan pribadi, bedak, kaca dan sisir.” Jelas Sesil. Satu lagi bukti kalo Sesil sangat peduli penampilan, dia tak pernah lupa akan benda pokok untuk dandan. Benar – benar peduli fashion. Walaupun sekolah mereka mewajibkan memakai rok lebih lima centi dari lutut namun tak bagi Sesil, dia mempermak roknya lima centi diatas lutut alahasil kakinya yang putih terlihat jelas.

“Oh, okay teruskan hobbi dandanmu itu kerja bagus pasti Si Langit tambah lengket denganmu. Semoga kau juga diterima di SMK Model, kau ingin menjadi seniman kan? Terutama model.” Seru Renata sembari menata bukunya diatas meja.

“Ren, satu hal yang gak kamu tahu aku dan Langit gak ada hubungan apapun.”

“Oh ya? Tapi kalian cocok kok. Yang satu cantik yang satu ganteng.” Tutur Renata jujur memang Langit sangat popular dikalangan siswi putrid bagaimana tidak selain pintar Bahasa Inggris, Langit mempunyai kulit yang putih, rambut hitam yang indah, hidung mancung, dia mempunyai otak pintar itu bonusnya.

“Suatu saat nanti kau pasti tahu?”

“Apa? Aku tak akan tahu apapun dan tak ingin tahu apa – apa. Lagi pula aku bakal pindah dari kota ini aku mungkin akan jarang bertemu teman – teman juga.”

“Jadi pindah kamu Renata?”

“Jadi itu udah janji Ayah Ibu jika aku lulus aku boleh tinggal bersama mereka berdua. Aku sudah kangen dengan Kak Fino, pengen meluk kakakku rasanya kangen dengan bau badannya. Bau badan aroma lab biologi.”

“Kau ini. Kapan berangkat?”

“Nanti.”

About pernakpernikbagusoke

Berfikir sebelum berbuat, Bertanggung jawab apa yang sudah diperbuat.. Karena Sejarah tak mengenal kata "Seandainya"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s