Posted on

Telat Menyadarinya part 2

Image

 

Renata mengepak semua pakaian dan barang yang sekiranya perlu untuk dibawa, bayangannya telah tersusun dan terencana rapi untuk tinggal bersama kedua orang tua serta kakaknya, selama dua tahun terakhir dia hanya tinggal sendiri di rumahnya sesekali sang tukang kebun datang untuk membersihkan rumah serta menata kebun, selebihnya sang tukang kebun kembali ke rumahnya. Untung Renata bukanlah tipe anak yang suka keluar untuk berfoya – foya dia lebih suka berada di rumah menonton TV ataupun film kalau tidak membaca buku biologi, mungkin menghabiskan waktunya untuk berseluncur di dunia maya dengan mendownload lagu ataupun video KPOP, sesekali juga melihat video Naruto kartun favoritnya. Baginya membeli film, album, ataupun komik sangatlah rugi, kenapa harus beli kalau bisa download? Gratis. Renata memang tipe anak yang hemat.

Malam itu terlihat cerah walaupun bulan hanya terlihat setengah wajah namun cukup nyaman untuk orang pergi keluar rumah, tak nampak mendung ataupun cuaca buruk. Renata memandangi foto keluarganya, Ayah, Ibu, Kakak dan dirinya.

“Kak, tunggu Renata disana ya?” seru Renata.

I Love you Baby I’m not monster. Suara Hpnya berdering tanda ada interaksi untuknya, pesan atau telepon? Sepertinya pesan karena Renata begitu santai meraih Hpnya. Sebuah nama tertulis dilayar LCD Renata, Bunda.

From Bunda.

Nata sayang, maaf jika besuk Ayah ataupun Ibu tak menjemputmu. Maafkan kami sayang kami hanya bisa mengirim Kakakmu pergi menyusulmu, sekarang dia sudah berangkat mungkin besuk pagi sampai. Ayah dan Ibu harus pergi untuk tugas di luar kota beberapa hari, Kakakmu akan datang untuk menjemputmu serta mengurus rumah untuk di kontrakkan. Lekas tidur nak, beristirahatlah. Hati – hati sayang, kami mencintaimu.

Renata mengembangkan senyum manisnya, dia senang menerima pesan dari ibunya. Beberapa kali banyak yang menggoyahkan imannya banyak yang berkata kalau orang tua Renata tak peduli lagi pada anak – anak mereka tapi Renata tak berfikir begitu, memang Ayah Ibunya tak lagi tinggal padanya, tapi tak pernah telat seharipun untuk menelpon ataupun sekedar mengirim pesan untuk Renata menyapa hello atau sekedar mengirimkan MMS keadaan keduanya.

I Love you Baby I’m not monster. Hpnya berdering lagi, kali ini suaranya lebih lantang dank eras, interaksi panggilan masuk. Siapa? Tak mungkin Ayah ataupun Ibunya. Sesil. Nama itu yang terlihat di LCDnya.

‘Nat’

“Iya, ada apa Sil?”

‘Kok tanya ada apa? Ada yang mau aku omonginlah. Kamu kok aneh sich, jelas – jelas besuk kamu udah pindah.’

“Oh itu, besuk aku dijemput Kakakku pagi – pagi. Kenapa?”

‘jam berapa? Sebelum tes di SMK Model aku ngantar kamu pergi ya? Ya sekedar say good bye aja.’

“Jam 6 mungkin, semoga sukses tesnya ya. Gapai cita dan impianmu syukur – syukur kalau jadian sama Langit.”

‘Aku dan Langit gak ada apa – apa. Sumpah.’

“Pasti nanti ada apa – apa.” Ejek Renata.

‘Nanti kamu juga akan tahu Nat, oh ya sudah dulu ya. Kamu pasti mau istirahat, aku juga mau siap – siap untuk tes besuk nich. Bye Nata sayang. See you.’

“See you”

Telepon telah ditutup begitu juga dengan mata Renata yang tak ingin terbuka lagi direbahkannya tubuhnya ke kasur, perlahan matanya tertutup mengikuti alur mimpi. Tapi kali ini belum sampai Renata bermimpi seseorang mengetuk jendela kamarnya. Spontan mata Renata terbuka lagi, seorang pemuda menunggunya untuk membukakan jendela.

“Galaksi?”

“Sorry Nat, aku manjat pake tangga bambu ini ke jendela kamarmu. Aku gak bisa tidur, kenapa sich kamu harus pergi?”

“Ya kenyataan harus begitu. Kau kan bisa main ke rumahku. Kau mau main apa? Boneka? Kayak kita kecil dulu?” Renata dan Galaksi adalah tetangga, sejak kecil mereka selalu bersama, bermain, mengerjakan PR mereka sepertinya sudah ditakdirkan bersama, tapi takdir itu telah berganti, Renata harus meninggalkan Galaksi. Disela obrolan mereka ada seorang petugas keamanan yang lewat memerhatikan tangga dan gerak gerik Galaksi. Dia menyorotkan senter tepat di muka Galaksi dan berteriak maling, Galaksi yang tak tahu apapun akhirnya terjatuh karena terkejut, dia hanya bisa meratapi nasib disangka maling. Tubuhnya jatuh tersungkur di tanah, Renata hanya terseyum dia ingin membantu sahabatnya tapi matanya terlalu menginginkan tertidur.

“Sorry aku ngantuk, gak bisa nolong.”

“Gak apa – apa aku lewat pintu belakang aja. Aku juga ngantuk.” Seru Galaksi yang masih terbaring di tanah dengan ekspresi kesakitan.

Renata kembali mengembangkan bibirnya dan tersenyum simpul mengingat sahabatnya yang terjatuh, rasanya tak ingin dia kehilangan waktu bersamanya namun hal ini sudah menjadi keputusannya dia ingin tinggal bersama kedua orang tuanya. Mungkin akan lebih baik dekat bersama orang tuanya, akan ada nada tawanya bersama keluarganya. Renata menggigit bibir bagian bawah, dia merasa tak nyaman kali ini, matanya tak bisa terpejam lagi ‘dasar Galaksi, kau merusak tidurku’ pekik Renata lirih. Tentunya sahabatnya itu tak akan berbuat diam jika terjadi sesuatu yang datang padanya, selama ini Galaksi sudah menjadi Kakak kedua setelah kakaknya sendiri. Alfino.

Berkali – kali ia mencoba menejamkan mata, namun selalu tak bisa waktu juga terus berjalan kini jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, matanya masih mengurungkan niat untuk menjelajahi dunia mimpi. Aih, kenapa selarut ini dia belum bisa menejamkan mata walaupun tubuh serta badannya telah mendukung untuk beristirahat. Hpnya bergetar, sebuah gambar amplop bertuliskan nama pengirimnya. Galaksi.

From: Galaksi

Nat, maaf kalo aku mengganggu tidurmu tadi. Setelah pulang dari rumahmu aku malah tak bisa tidur. Maaf juga aku mengganggumu lagi lewat pesan ini. Kapan kau akan berangkat besuk?

Renata kembali mengukir senyum, ada lesung pipi yang terlihat kala ia tersenyum. Menuliskan kalimat untuk membalas pesan dari sahabatnya itu.

Jam 6 aku berangkat, jika ingin bertemu temui aku esok pagi. Selamat Malam.

About pernakpernikbagusoke

Berfikir sebelum berbuat, Bertanggung jawab apa yang sudah diperbuat.. Karena Sejarah tak mengenal kata "Seandainya"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s