Posted on

Telat Menyadarinya part 3

Fajar telah menyapa, burung juga sudah menerbangkan sayapnya, memulai harinya. Renata membuka matanya yang mulai merasakan silau karena sapaan sang fajar yang masuk tanpa diundang dari sela – sela kaca jendela yang tak tertutup gorden. Jemarinya masih mengusap matanya, tubuhnya masih menolak untuk beranjak dari tempat tidur. Namun memaksakan diri menuju kamar mandi yang terletak di kamarnya dengan lesu, dia hanya menundukan badan dengan membawa baju mandinya yang bewarna biru, dia sadar kalau hari ini harus bergegas untuk pindah. Hari yang sudah ditunggunya sekian lama, harapan untuk tinggal bersama keluarganya. Dia mengendus panjang kala menatap wajahnya dikaca lalu membasuh mukanya, menggosok gigi dan mandi.

“Sebenarnya, aku juga tidak terlalu kalah jauh disbanding Sesil. Tapi kenapa ya semua cowok di sekolah hanya memandangku sebelah mata? Apa karena aku kutu buku? Mengenaskan nasibku.” Gumamnya. Selama ini dia dekat dan menjadi teman Sesil hanya menjadi bayang – bayang Sesil saja. Padahal sejujurnya dirinya menarik, ia memiliki rambut hitam panjang nan berkilau, lesung pipi yang selalu nampak ketika melukiskan senyum, kulit yang putih, hidung yang mancung, bulu mata dan bola mata berwarna kecoklatan.

 

 

FLASH BACK

“Aku mencintaimu.” Kata seorang cowok berumur sebayanya yang membuat Renata kaget.

“Kau.–”

“Aku mencintaimu,” potong sang cowok yang berseragam seperti dirinya.

“Aku masih, belum —“ seru Renata yang sudah bergetar dan merasakan malu setengah mati.

“Nat, tolong katakan itu pada Sesil”

Begitu panas dan terbakarnya Renata mendengar perkataan itu, rasanya sudah tak ada ketertarikan lagi dalam dirinya sehingga semua cowok hanya menyukai Sesil. ‘untuk apa aku hidup? Seumur hidup aku juga tak akan memiliki orang yang benar – benar mencintaiku karena diriku sendiri, mereka hanya memilih Sesil.’ Pikirnya. ‘mungkin hanya keluargaku sajakan yang benar – benar tulus padaku?’ tambahnya. Mulai sejak itu Renata tak lagi ini berharap terlalu dalam soal cinta dari laki – laki prinsip yang selalu beranggapan bahwa cinta itu indah tak lagi ada dan berganti dengan AKU TAK AKAN SUKA DENGAN ORANG YANG TIDAK BENAR – BENAR MENCINTAIKU. Artinya ia ingin dicintai daripada mencintai.

KEMBALI

Pagi memang telah tiba, tapi suasana perumahan yang ditinggali Renata masih sepi entah mengapa semua orang enggan untuk keluar dan menyapa matahari pagi ini. Renata segera keluar dari kamar begitu urusan mandi dan membersihkan diri selesai, rambutnya tergerai panjang hingga mencapai pinggangnya, cantik alami dia memakai baju lengan panjang berwarna putih dan celana pensil. Bagi Renata memakai baju tertutup lebih baik dan lebih nyaman, selain bisa menutupi diri dari dingin dan panas juga bisa melindungi dari mata – mata jahil.

Ia berdiri tepat didepan rumahnya, sesekali dia melirik jam tangannya yang berwarna hitam pada tangan kirinya, menantikan seseorang. Alfino, kakaknya.

“Mana sih kakak?” tanyanya pada diri sendiri, karena tak ada orang lain selain dirinya disitu.

I Love you Baby I’m not monster. Hpnya berdering, ia merogoh saku celananya dilihat layar LCDnya Kakak calling.

“Hallo, kak.”

‘Nat,’

“Ya.”

‘Maaf, aku masih mampir ke took dulu, kau belum sarapan kan? Jadi mungkin aku datang 15 menit lagi.’

“Oh, gak apa – apa kok”

Ia segera menuju kedalam rumah lagi setelah kakaknya memutuskan sambungan, berjalan menaiki tangga yang berada diluar rumah menuju ruang tamu, Renata mengendus panjang sambil merebahkan tubuh ke sofa putih yang berada di ruang tamu. Diliriknya jam dinding pukul 5.36. ‘kenapa menunggu itu lama sekali’ batinnya. Renata kemudian berjalan dia tertarik untuk melihat sebuah foto yang ada di sebelah jam dinding, foto keluarganya yang berukuran besar dipandanginya foto itu, ada Ayah, Bunda, Kak Fino, dan dirinya. Namun selama ini ada yang aneh ada hal yang menurutnya disembunyikan oleh kedua orang tuanya, apa ya?

“Kenapa aku tidak mirip Bunda sama sekali? Rambut Bunda keriting, Ayah juga. Bukankah gen keriting itu dominan? Lalu mataku warnanya kecoklatan sementara punya Bunda hitam. Kulit bunda juga kuning langsat, kulitku pucat. Tampak seperti hantu apalagi sekarang rambutku aku gerai.” Belum selesai Renata berandai – andai tentang dirinya sebuah suara mobil tampak memasuki pekarangan rumahnya, tentu saja rumah Renata tak ada pagar jadi leluasalah mobil untuk keluar masuk, sepertinya lingkungan perumahan di rumah yang ditinggalinya sadar akan keamanan serta sadar hukum.

Seorang gadis dengan warna rambut sedikit cokelat melangkah mendekati sebuah rumah megah bewarna putih. Dia cantik, tampak bibirnya berwarna pink dengan olesan lipglos, rambutnya yang cokelat tergerai sampai bahu, pipinya sedikit merona. Dia mengetuk pintu dan,

“Sesil?” ucap Renata kala membuka pintu. “Aku kira Kak Fino. Ah.. masuklah!” sambungnya.

“Aku belum telat ngantar kamu pergikan?”

“Hei, aku itu hanya pindah keluar kota, kau bisa ke rumahku kapan saja bukan?”

“Iya juga sih, tapi kan hitung – hitung bisa ketemu Kakakmu yang keren itu. Dia belum datang?”

“Kau itu sebenarnya berteman denganku untuk mendekati Kakakku kan?”

“Nat, maaf ya. Itu aku memang berteman denganmu untuk bisa dekat dan kenal dengan kakakmu. Aku sempat cemburu memang kala kau bersama Kak Fino saat masuk SMP dulu, tapi setelah kutahu kau adiknya tak ada alasan bagiku untuk cemburu dengan calon adik iparku.” Papar Sesil

Deg, Renata terkejut. Jadi selama ini Sesil berteman hanya untuk mendekati Kakak.

“Tapi aku sadar, kau terlalu baik Nat. aku tak ingin membuatku terluka dengan niat awalku. Maafkan aku Nat, aku baru mengatakan ini padamu. Kau baik sekali padaku Nat.” tutur Sesil dengan menundukkan kepala.

“Tenanglah aku tak marah kok.” Jawab Renata dengan senyum. Dan memeluk sahabatnya.

Penyesalan Sesil tentang niatnya mendekati Renata sekarang tak ada gunanya karena telah terbalas dan tertutupi oleh kata maaf dari Renata. Renata tak ingin kehilangan sahabatnya lagi. Ia tak ingin menyiakan orang yang menyayanginya dengan tulus, walaupun tahu Sesil pernah salah mengartikan arti persahabatan mereka. HANYA KARENA ORANG LAIN TAK MENUNJUKKAN CINTA YANG TAK KAU HARAPKAN BUKAN BERARTI DIA TAK MENYAYANGIMU.

“Renata.” Seru Fino yang baru datang sukses melepaskan pelukan mereka.

“Kakak, sudah datang?”

“Iya, ada Sesil ya” kata Fino lagi.

“E-h i-ya. Pagi Kak.” Kata Sesil gugup.

“Ehem, ciiie” goda Renata.

“Apaan sich Nat, malu tahu.” Kata Renata dengan menundukkan kepala karena malu, sementara itu Fino hanya bisa garuk – garuk kepala karena salah tingkah dihadapan adiknya.

“Cie cie ahaha” tambah Renata lagi.

Tok tok tok

Sementara itu mereka yang asik bertatapan malu – malu karena Renata menggoda mereka terpaksa buyar karena pintu rumah diketuk seseorang. Fino segera membuka pintu, matanya langsung terbuka lebar kala mendapati seseorang berdiri diambang pintu, dia heran. Seorang anak laki – laki memakai pakaian tidur bercorak teddy bear dengan rambut yang berantakan lengkap dengan sandal tidur dengan dekorasi beruang. Matanya masih sayu untuk terbuka.

“Siapa kak?” Renata bertanya pada Fino yang dari tadi hanya berdiri diambang pintu. Lama menunggu akhirnya dia berjalan mendekati kakaknya.

“Galaksi.” Ucap Renata dengan terkejut. Melihat sahabat kecilnya berdiri didepan pintu bukan apa – apa tapi tampilannya yang berbeda dari kepribadian Galaksi yang selalu memerdulikan penampilan. Kali ini beda memakai baju tidur dengan celana sampai lutut sehingga terlihat jelas bulu kakinya. Membuat Renata bergiding ngeri melihat bulu – bulunya.

“Maaf, aku telat nganter kamu pindah gak?” seru Galaksi dengan mengucek matanya sambil bersandar di tiang dekat pintu.

“Pantat ayam belum mandi udah kesini.” Seru Fino dengan tawanya yang ditutupi tangan. (sebutan untuk Galaksi dari Fino karena rambutnya seperti gaya emo namun tidak bagi kakak Renata ini rambut gaya emo yang membuat rambut cenderung ke belakang justru mengingatkannya pada pantat ayam)

“Apa? Gal, kamu belum mandi lihat dirimu?” seru Renata dengan menepuk pundak Galaksi.

“Sorry Nat, aku takut kamu berangkat jadi gak ada persiapan dech dandan cakep.” Jawab Galaksi dengan santai sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Mendengar jawaban yang polos mereka hanya bisa tertawa, Renata, Fino, Sesil sedang Galaksi hanya bisa mengeritkan jidat.

About pernakpernikbagusoke

Berfikir sebelum berbuat, Bertanggung jawab apa yang sudah diperbuat.. Karena Sejarah tak mengenal kata "Seandainya"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s