Posted on

Kuikat Hatimu

Image

Sebuah decitan dari kayuhan sepeda terdengar senada dengan digerakkan kakinya untuk mengayuh sepeda. Seorang gadis tampak menyeka peluhnya, rambut panjangnya terurai mengikuti arahan angin serta arah kayuhan sepedanya tak terlalu jauh jarak yang ia tempuh sekitar satu kilometer dari sekolahnya, kini ia telah sampai didepan pintu gerbang rumahnya. Ia segera menekan bel agar ada orang yang membukakan gerbang untuknya. Seorang laki – laki berambut panjang, berkulit putih pucat, bermata sama dengannya, cokelat datang mendekati gerbang dan membukakan pintu untuknya.

“Hellena, baru pulang? ” Kata laki – laki itu, Hellena hanya berdehem dan melangkahkan kaki masuk kedalam rumah sambil menuntun sepedanya.

“Hei, kau bisa bantu aku? Internet di rumah sedang bermasalah, bisakah kau pergi untuk mencarikan bahan makalah untukku?”

“Apa kau tak bisa sendiri, Kak? Itu tugasmu.” Protes Hellena.

“Apa kau tak ingin pergi melihat warnet tetangga baru kita? Mereka baru pindah satu minggu yang lalu dan membuka warnet hari ini.” Jelasnya.

“Baiklah.”

:::::::::::::::::

Hellena berjalan melangkahkan kaki putihnya menuju rumah yang tak begitu jauh dari rumahnya, hanya lima rumah dari rumah kediaman keluarganya. Gadis berambut panjang itu berdiri menatap dan memerhatikan sebuah rumah yang kini berada dihadapannya, rumah yang dijadikan warnet sekaligus. ZerOnet. Nama yang aneh baginya, gadis itu masuk melewati pintu kaca yang dibuka dengan menggesernya, mendapati sosok laki – laki yang berada di meja server. Laki – laki itu tersenyum, memamerkan sederet gigi putihnya, Hellena membalas senyum tipis.

“Hellena ya? Anakknya Pak Botan, adiknya Etsu.”  Seru laki – laki paruh baya yang duduk di meja server itu. Hellena hanya bingung, kenapa beliau itu tahu namanya, bukannya dia baru pertama bertemu dengan bapak ini. Dia sendiri belum mengetahui nama  pemilik rumah ini sekaligus pemilik warnet ini.

“Iya, pak. Maaf kok bapak tahu nama saya? Apa kita pernah bertemu?” seru Hellena tanpa melepas senyum tipis dengan menatap laki – laki itu.

“Oh, saya sudah kenal dengan keluargamu, Ayah, Kakak dan Adikmu. Mungkin karena kau sekolah, Kakakmu Etsu tadi bilang bahwa kau akan kemari mengerjakan tugas.” Papar sang pemilik warnet.

“Oh, saya sendiri belum tahu tentang bapak. Bapak sudah tahu hal tentang saya. Selamat datang di perumahan ini pak, semoga bapak beserta keluarga betah.” Hellena membungkukkan badan dan terseyum pada laki – laki itu, laki – laki paruh baya itu membalas senyummannya.

“Terima kasih. Kau anak yang manis, kau bisa memanggilku Rinji. Pak Rinji, tak mungkinkan kau memanggilku dengan nama saja.” Jawab sang pemilik warnet yang masih saja duduk di kursi kekuasaannya. Hellena hanya terkikik geli dalam hatinya tak ingin dia terlihat tak sopan jika menertawakan seseorang yang lebih tua darinya, bahkan lebih pantas menjadi ayahnya, bagaimana Hellena tak geli, baru kali ini dia bertemu dengan laki – laki paruh baya yang memiliki perawakan yang begitu hiperaktif.

“Iya, pak. Salam kenal. Maaf, apa ada yang kosong?” tanya Hellena dengan sopan.

“Banyak, tinggal kau pilih. Maklum masih baru buka, pilih nomor 6, 8, 10 dan 11.” Papar sang bapak.

“Nomor 6 saja pak.” Seru Hellena dengan senyum dan berjalan kearah bangku warnet nomor 6. Memilih nomor 6 memang dekat dengan jendela, jadi Hellena bisa mengetahui kejadian yang terjadi diluar, maklum dia bisa lupa waktu jika sudah meluncur di dunia maya.

Hellena menarik kursi menimbulkan sedikit decitan kecil, duduk dikursi dan masih memerhatikan sekelilingnya, warnet yang lumayan lengkap menurutnya, monitor, CPU, keyboard, mouse, kamera, headset, AC, dan beberapa buku tentang computer dan internet yang tertata rapi didekat meja server yang dilaluinya tadi. Ada yang lupa belum tersebutkan dibenak Hellena, atau mungkin Hellena belum melihatnya, sebuah caffe kecil yang berada disisi warnet, benar – benar orang yang memanfaatkan bisnis. Hellena menatap monitor yang kini ada dihadapannya, mencari tugas sang kakak. Memang apa sih mengerjakan tugas yang mudah, membuat makalah dan kemudian dipaparkan didepan kelas, apa kakaknya terlalu malas untuk ini semua? Tapi apa boleh buat, kakaknya telah berjanji mengerjakan tugasnya dirumah, ya Hellena memang tak memiliki ibu jadi sedikit banyak dia yang mengerjakan pekerjaan rumah.

Hellena mencabut USBnya dan berjalan menuju meja server untuk meng-print tugas Kakaknya Etsu. Rambutnya terurai panjang, bulu mata lentiknya menari – nari sesekali menutupi mata cokelatnya. Dia telah sampai berada di meja server menyerahkan USBnya kepada sang server, tapi ada yang aneh. Tadi bukannya Pak Rinji memakai kemeja lengan pendek dengan warna putih, kok sekarang malah yang duduk di meja server itu laki – laki yang memakai kaus biru dengan bertuliskan BLACKLIST. Hellena tambah bingung, kok Pak Rinji begitu muda ya? Adakah mesin waktu agar membuat orang lebih muda?

“Print ya mbak?” tanya sang server.

“Eh, iya pak.” Jawab Hellena ragu. “Pak Rinji bukan sih.” Sambungnya dengan volume yang sangat kecil, mungkin juga sang server tak mendengarnya. Sang server hanya menatapnya dengan bibir yang mulai ditariknya, tersenyum kepada sang gadis dihadapannya mengambil USB Hellena yang sengaja dia taruh di meja server.

“Di folder apa mbak?” tanyanya pada Hellena lagi.

“Vanilla, pak. Judulnya Perkembangan Janin.” Jawab Hellena. Sang server itu hanya tersenyum melihat tingkah Hellena yang begitu lucu. Hellena hanya menunduk, karena dia tahu kalau laki – laki itu menatapnya. Menunduk dengan perasaan bertanya – tanya. ‘Kalau Pak Rinji pasti sudah tahu namaku? Kalau Pak Rinji tak mungkin akan semuda ini, siapa sih orang ini? Pak Rinji bukan sih? Ganteng banget. Eh, kok jadi mikir aneh – aneh.’ Batin Hellena.

Setelah selesai berurusan dengan tugas kakaknya, Hellena keluar dari warnet dan melangkah menuju rumahnya. Meninggalkan warnet yang kini sudah berjarak beberapa langkah darinya, langkahnya sedikit sulit karena pengunjung warnet yang mulai ramai, memarkirkan kendaraan mereka yang berserakan, membuat seseorang yang melewatinya sedikit kesulitan. Langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Dia berbalik dan mendapati Etsu yang duduk di bangku café milik Pak Rinji juga. Hellena melangkah menuju kakaknya yang duduk disamping pemudi, ya pemudi yang kini sudah menjadi kekasih kakaknya. Orini, sekaligus teman sekelasnya. Ah tak bisa dibayangkan jika dia akan jadi adik ipar temannya itu, sangat aneh baginya tapi mau gimana lagi, inilah kenyataannya.

“Sudah, bagaimana tugas di rumah?” tanya Hellena, takut jika sang kakak tak mengerjakan tugasnya di rumah.

“Sudah. Nyiram halaman, nyapu halaman, taman belakang, nyapu rumah, ngambil daun yang ada di kolam renang.” Jelas sang Kakak.

“Bagus. Cepat bangat. Bersih tidak?” Seru Hellena sambil menyerahkan tugas pada sang kakak.

“Beres, iyalah cepet bersih – bersihnya sama Orini.” Jelas Etsu

“Kau masih punya tugas lain Hellena.” Seru Orini pada Hellena.

“Apa? Bukankah kalian sudah menyelesaikannya?” tanya Hellena bingung.

“Memasak.” Jawab Orini singkat.

“Ya, aku tak bisa masak.” Sambung Etsu.

Hellena hanya mengangguk pelan, dia tahu bahwa kakak dan kekasihnya itu tak bisa memasak. Hellena kemudian berkacang pinggang membalikkan badannya dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Langkahnya sedikit terhenti ketika seorang pria paruh baya menyapanya, pria itu baru turun dari motor dengan membawa berbagai macam keperluan rumah, ada sayur, lauk dan beberapa bahan makanan lainnya.

“Sudah selesai Hellena?” tanya sang pria yang diketahui bernama Rinji.

“Iya, Pak. Permisi.” Seru Hellena seraya berjalan menuju rumahnya. ‘Bukannya tadi Pak Rinji di meja server? Kok sekarang ada diluar baru turun dari motor. Jadi yang tadi itu siapa? Kok mirip banget, mata hitamnya, kulit tannya, rambut hitamnya, senyumnya. Siapa ya tadi yang duduk di meja server sewaktu aku mau pulang?’ tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri. ‘Anak Pak Rinji? Ah kenapa aku tadi memanggilnya dengan sebutan ‘pak’. Bodohnya.’

::::::::::

Seminggu sudah kejadian yang dia alami di warnet sebelah rumahnya. Walaupun sudah satu minggu namun Hellena tak bisa menghilangkan begitu saja pertemuannya dengan anak Pak Rinji, entah mengapa Hellena berfikir bahwa itu anak Pak Rinji, ya karena Pak Rinji tak mungkin semuda itu. Hellena sekarang sedang menyirami halaman rumahnya dan menata beberapa pot yang sedikit berantakkan menurutnya, membuang dedaunan yang gugur dalam pot agar tak mengganggu pemandangan. Benar – benar sangat teliti.

“Hellena!”

“Apa Kak Etsu?” seru Hellena tanpa menatap sang kakak, dia masih menatap kebawah, menatap pot bunga dengan jemari yang masih mengeluarkan daun – daun yang layu.

“Bisa bantu aku lagi? Carikan tugas tentang ‘darah’. Internet bermasalah lagi.” Jelas Etsu pada adiknya. Apalagi ini, kenapa internet selalu mendukung untuk rusak jika Etsu sedang memakainya. Kenapa kakaknya malas sekali untuk pergi sendiri?

“Tidak mau, kau tak punya alasan untuk menganti tugasku kan? Aku sudah menyelesaikannya semua denga Hebe tadi, jadi untu kali ini aku tak bisa.” Seru Hellena merasa dirinya menang, karena dia merasa malu jika nantinya harus bertemu dengan Pak Rinji ataupun anaknya.

“Kau yakin? Akan menolak untuk ini? Aku punya voucer belanja di butik, ya walaupun hanya satu gaun tapi, tak_” belum selesai Etsu berbicara Hellena menyekanya.

“Okay, butik ya? Aku mau, tapi aku mau mandi dulu.” Jelas Hellena seraya berjalan menuju dalam rumah dan bergegas mandi. Bukannya matre sih, tapi wanita mana yang gak ngiler jika dapet voucer untuk satu gaun di butik? Sehemat – hematnya wanita pasti juga tetep belanja kan? Mumpung gratis. Sepertinya Kak Etsu memiliki 1001 cara agar Hellena menurut, eh bukan nurut tapi lebih tepatnya pasrah.

“Sip.” Seru Etsu yang mengikuti adiknya berjalan menuju dalam rumah.

“Oh ya Kak, Pak Rinji itu pekerjaannya apa sih?” tanya Hellena yang kini tengah berada didalam kamar mencari – cari bukunya, ya kalau – kalau ada tugas yang butuh dicarinya di internet, sekalian mengerjakan tugas sang kakak.

“Banyak usaha mereka, kayaknya pebisnis professional dech. Travel, mini market, sekarang tambah warnet dan café, padahal mereka belum lama pindah disini.” Jelas sang Etsu.

“Oh.” Hellena ber’oh’ ria dan tersenyum. “Aku ternyata punya tugas Bahasa Inggris. Sekalian ngerjain tugas kakak. Oh ya mana voucernya?” sambung Hellena.

“Aku berikan setelah kau selesaikan tugasku. Tenang aku tak akan ingkar terhadap yang sudah aku bicarakan. Mandi sana gih, aku mau bantu Ayah di ruang kerja.” Ucap Etsu seraya berjalan meninggalkan kamar sang adik menuju ruang kerja sang Ayah. Etsu biasa membantu Ayahnya, Ayahnya pun sering meminta pendapat Etsu untuk melakukan inovasi baru terhadap sekolah milik keluarga mereka, tapi kenapa? Kenapa? Ayahnya pemilik sebuah sekolah swasta yang terkenal di kotanya, anaknya malas untuk mengerjakan tugas yang sangat gampang. Tapi Etsu bukanlah anak yang bodoh, dia cerdas, pintar, hanya saja malas. Sedikit malas.

Hellena kini terpaku menatap Warnet yang ada didepan matanya. ZerOnet.

“Hahahaa.” Seseorang tertawa ketika Hellena hendak melangkah, didapati laki – laki memakai kemeja batik dan terseyum padanya. Pak Rinji. Siapa lagi kalau bukan dia? Bapak paruh baya hiperaktif. “Kenapa Hellena natap warnet saya? Hahaha.” Sambung Pak Rinji, benar – benar kelakuan orang paruh baya yang super semangat.

“Maaf, Pak. Ada yang kosong? Kak Etsu nyuruh saya menyelesaikan tugasnya karena internet di rumah bermasalah.” Jelas Hellena. Pak Rinji masih tetap tertawa memamerkan gigi putihnya dengan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Wah Hellena, udah penuh. Tapi bisa nebeng sama anak saya. Gratis buat Hellena. Dia dinomor 8. Jawab Pak Rinji sambil manatap computer di meja server. Aku hanya mengeritkan kening dan tersenyum.

“Anak bapak?”

“Iya, mungkin belum kenal. Dia kelas 1 SMA juga mungkin karena tidak satu sekolah jadi belum kenal. Tapi kalian pernah bertemu kok, mungkin kamu lupa ketemunya juga cuma sebentar. Udah sana, suruh dia bantuin kamu ngerjain tugas. Hehehe.” Jelas Pak Rinji disusul dengan tawa. Hellena berjalan menuju meja nomor 8. ‘Meja yang berada dipojok, kenapa dipojok sih? Gak ada jendelanya. Hah nomor 8, ada manusia ganteng disana, duduk menatap layar computer plasma, rambutnya hitam, kulitnya tan, hidungnya mancung, matanya hitam, tangannya kekar yang sedang menggerakkan mouse. Ya Tuhan, aku bisa pingsan di tempat ini. Ah jangan – jangan, malu dilihat orang.’ Batin Hellena.

“Penuh ya mbak?” tanya pemuda itu dengan mengangkat mukanya menatap Hellena yang masih terpaku didepan meja nomor 8nya.

“Iya Mas. Kata Pak Rinji, saya boleh nebeng di meja ini. Anaknya Pak Rinji kan?” tanya Hellena yang kemudian berjalan menuju kursi kosong yang ada disebelah kursi pemuda itu.

“Iya, mbak. Nama saya Juro.” Ucapnya.

“Oh, aku Hellena.”

“Aku sudah tahu kok. Sejak kejadian itu, kejadian saat kau memanggilku ‘Pak’. Satu minggu yang lalu, kalau kau mengerjakan tugas ‘perkembangan janin’.” Jelas Juro. Hellena merasa malu, kenapa dia baru menyadari bahwa Juro dan Pak Rinji saat sudah keluar dari warnet.

“Maaf, karena Masnya mirip banget sama Pak Rinji, maaf ya. Tapi masnya kok tahu nama saya? Ayah mas yang cerita?” kata Hellena dengan hati – hati.

“Gak apa – apa kok. Ya aku tahu dari Ayah. Oh ya? Mau ngerjain tugas ya? Apa tugasnya?” tanya Juro bertubi – tubi pada Hellena.

“Bukan tugasku semua sih mas, aku cuma nyari Narrative text. Selebihnya tugas Kak Etsu.” Papar Hellena.

“Oh, kau ngopi saja punyaku Hellena. Kebetulan aku mendapat tugas yang sama, kau bisa ngopi punyaku. Mungkin hanya tinggal ganti nama dan juga bingkai yang menurutmu cocok.” Ujar Juro dengan senyum yang dia tujukan pada Hellena. ‘Oh Tuhan, makhluk ganteng ini. Maksudku Juro tersenyum padaku? Aku bisa pingsan, dia bahkan berada dekat denganku menawariku tugasnya untuk dikopi pula. Oh malaikat.’ Batin Hellena.

“Eh, Hellena. Ada yang salah?” ucap Juro karena tak mendapat jawaban dari Hellena.

“Eh? Gak kok mas.” Jawab Hellena gugup.

“Jangan panggila aku mas, aku hanya berbeda 1 tahun darimu.”

“Eh?”

“Iya. Aku tahu kau lahir satu tahun setelahku. Kau tahu sejak kejadian itu, kejadian dimana kau memanggilku ‘pak’ aku mencari informasi tentangmu. Mencari tahu namamu, ya aku bisa mendapat info iti dari ayah, tentang namamu, rumahmu, keluargamu dan aku mencari informasi yang aku bisa. Aku mencari Facebookmu, twittermu, my space, me2day ternyata mudah, kau cukup terkenal di internet, ketik namamu sudah ketemu. Aku menyukaimu Hellena. Mau kau jadi pacarku?” papar Juro. Pengakuan itu seketika membuat pipi Hellena merah padam. Benar – benar bisa pingsan Hellena saat ini.

“Mas Juro. Jujur juga aku juga penasaran sama mas.” Jelas Hellena memang tak begitu panjang dari pemaparan Juro tapi sukses membuat Juro memerah karena blushing.

“Jadi kau mau jadi pacarku?” tegas Juro meyakinkan.

“Eh?”

“Mungkin terlalu cepat Hellena, tapi ini memang benar, aku mencari info tentangmu dari Kakakmu Etsu yang sering datang ke café dengan pacarnya, tanya pada Ayah. Bahkan bukan hanya mencari info aku juga sering memerhatikanmu, saat kau berangkat sekolah, menyiram bunga didepan rumah.”

“Aku..” Hellena menggantungkan ucapannya.

“Kalo gak mau gak apa – apa kok?” ucap Juro. ‘Aduh, mas jangan salah paham dong’ batin Hellena. ‘Hellena terima dong’ batin Juro.

“Maaf mas, bukan itu yang aku maskud. Aku mau kok mas.” Ujar Hellena dengan pipinya yang merah.

“DITERIMA?” teriak Juro yang sukses membuat pengunjung warnet menatap ke meja mereka. Benar – benar super duper hiperaktif.

“Psst, diem.” Kata pengunjung warnet serempak.

“Ya udah yuk Hellena ng-print.” Juro menarik lengan Hellena dan berjalan menuju meja server ayahnya dengan tangan tetap memegangi lengan Hellena. Setelah sampai, Juro minta tolong pada sang ayah untuk mencetak tugas mereka melalui printer.

“Cieeh, baru jadian yak? Cieee banget.” Goda Pak Rinji yang sukses membuat wajah mereka merah padam entah karena malu atau senang. Hellena memilih menunduk menutupi pipinnya yang memerah sedangkan Juro hanya terseyum dan menunjukkan jari jempolnya pada sang ayah.

“Wah, anakku sudah besar ya? Udah punya pacar. Cantik pula.” Goda sang Rinji. Ayah Juro.

Sungguh hari yang indah untuk Hellena sudah dapat voucer belanja gaun di butik, jugasnya selesai dengan cepat, dapat pacar pula. Juro cinta pertamanya, pemuda yang membuatnya bersemu merah, pemuda yang membuatnya selalu ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah membuat dirinya merasakan rasa cinta, membuatnya bahagia dan membuatnya merasakan malu, senang secara bersama. ‘Terima kasih Juro’ ucap Hellena dalam hati. ‘Aku mencintaimu Hellena, selamanya.’ Batin Juro.

::::::::

Lima tahun sudah Hellena dan Juro menjalin hubungan, kedua orang tua mereka beserta keluarga juga sudah tahu akan hubungan mereka. Langgeng. Sejak kelas 1 SMA. Sejak umur Hellena 15 tahun, umur Juro 16 tahun. Sekarang keduanya telah berubah, Hellena tumbuh menjadi wanita yang lembut, cerdas, baik, pengasih. Hellena sekarang mengurus took milik keluarganya. Toko buku, ya buku. Hobby Hellena memang membaca buku, Hellena tak ingin mengurus sekolah swasta milik keluarga, menurutnya kakanya lebih pantas akan hal itu. Juro kini dia telah menjadi pria hebat, tubuhnya tegap, tangannya bertambah kekar, sekarang dia menggeluti bisnis travel milik sang ayah.

Juro mengambil alih keranjang piknik yang berada di tangan Hellena, ketangan kirinya. Sedangkan tangan yang lainnya menggenggam tangan Hellena. Mereka masih melukiskan senyum yang terpancar dari bibir mereka tak ingin menghapus senyum itu. Mereka berjalan menyusuri jalan taman yang ramai dikunjungi penghuni perumahan yang mereka tinggali menacari tempat yang sepi untuk piknik mereka berdua. Juro semakin menggeratkan pengangan di tangan Hellena, tak peduli dengan wajah Hellena yang semakin merah seperti tomat. Rambut hitam panjang Hellena bergoyang mengikuti langkah kaki, langkah kaki yang dirtuntun Juro.

“Kita sampai.” Ucap Juro yang kemudian mengelar alas piknik bewarna pink diatas rumput. Diletakkannya bekal piknik yang telah dibawa Hellena diujung. Hellena duduk bersimpuh, jemarinya menyeka keringat yang bercucuran, mengibas – ibaskan tangannya agar menciptakan sedikit udara. Juro hanya menatap Hellena dengan senyum yang masih ia lukiskan. Hellena menatap Juro dan tersenyum pada kekasihnya.

“Ada yang salah denganku?” tanya Hellena pelan agar Juro tak marah, maklum Hellena sudah bersama Juro lama jadi hafal dengan tingkah Juro yang suka meledak ledak.

“Banyak, kau harus minta maaf.”

“Baiklah, sebutkan apa salahku Tuan Juro!”

“Kau menantang rupanya. Aku akan menjawab jika kau berkata ‘Ya’.”

“Ya.”

“Kau akan mencintaiku?”

“Ya.”

“Tak akan berpaling dariku, jika ada pria lain.”

“Ya.”

“Akan setia padaku?”

“Ya.”

“Akan menjadi istriku?”

“Ya.”

“Akan memberikanku banyak anak?”

“Ya.”

“Baiklah.”

“Eh, kau bilang apa barusan? Setelah menikah.” Ucap Hellena. Juro menatap tanah dan mengambil batu melemparkannya ke danau buatan sehingga membuat pantulan katak diatas kolam. Hellena hanya terdiam melihat kekasihnya. Apa ada perkataan Hellena yang salah? Apakah Juro marah? Mereka masih terdiam. Juro kemudian duduk kemudian meletakkan kepalanya dip aha Hellena yang ia jadikan bantal.

“Aku tak marah Hellena. Jangan diam seperti itu. Aku mencintaimu Hellena.” Ucap Juro. Seolah bisa membaca pikiran kekasihnya, Hellena terseyum mendengar pengakuan Juro. Kini Juro bisa menatap wajah Hellena yang menunduk kearahnya. Perlahan tapi pasti tangan kiri Juro menuntun Hellena untuk mendekat ke wajahnya, jarak mereka sekarang tampak tak ada, tangan Juro terus menuntun Hellena mendekati bibirnya dan kini tangan Hellena yang sebelumnya membelai rambut hitam Juro meremas baju bagian belakang Juro. Bukan ciuman yang penuh nafsu, tapi ciuman yang penuh kasih. Dengan perlahan Juro dan Hellena melepaskannya kini wajah mereka bersemu merah Juro kembali menjadikan paha Hellena menjadi bantal dan mencoba menyembunyikan wajah merahnya ke perut ramping Hellena. Sungguh Juro yang dewasa kini bisa jadi anak yang manja jika bersama Hellena.

“Kau tak ingin mencoba bekal yang telah aku buat?” tanya Hellena yang masih membelai rambut Juro. Pemuda itu bangun dari baringannya dan duduk disisi Hellena, tangannya meraih kotak bekal bewarna hijau yang dibalut dengan penutup bekal bewarna biru muda. Warna kesukaan mereka hanya saja Hellena menyukai warna yang sedikit muda sedangkan Juro lebih suka dengan warna yang gelap.

“Kau masak apa hari ini, Nyonya Juro.” Goda Juro pada Hellena, benar saja Hellena menjadi malu.

“Kita belum menikah, panggil aku Nyonya Juro setelah kita menikah.” Tegas Hellena yang masih dengan wajah memerah. Juro tak memerdulikan hal itu dia membuka kotak bekal dan mendapati makanan kasukaannya. Roti gulung dengan warna pelangi.

“Hei, mau sampai kapan kau menolak jika aku goda? Bisa – bisa warna merah di pipimu itu jadi permanen.” Goda Juro sambil melahap bekal piknik mereka. Juro teringat akan sesuatu, dia merogoh sakunya mengambil sesuatu yang ada disana, sepasang cincin perak. Dia pasangkan cincin yang berukuran kecil dijari manis tangan kiri Hellena dan ketika ia akan memasang cincin yang satu di jari manis tangan kanannya Hellena mengambil cincin itu dan memasangkan cincin itu pada tangan Juro. Mereka tersenyum dengan masih dalam keadaan hening.

“Hellena, memang aku masih belum bisa melamarmu secara resmi. Tapi aku harap kau mau memakai cincin ini. Memang tak bisa mengikat raga kita, tapi setidaknya bisa mengikat cinta kita.” Ujar Juro.

“hmm”

“Maukah kau menjadi Nyonya Juro? Menjadi istri sekaligus ibu untuk anak – anakku nanti, Hellena?”

“Baiklah, aku tak bisa menolak.” Tutur Hellena dengan senyum. Mereka berpelukan disamping danau buatan, yang menjadi saksi bisu akan lamaran Juro pada Hellena.

:::::::

Wanita muda itu sedikit kepayahan tatkala dia sedang menuntun Juro bersamanya menuju kamar hotel, yang sudah dipesannya dengan susah payah. Wanita itu tak punya pilihan jika tidak melakukan ini, karena dia tak mungkin menggugurkan kandungannya, ya ada janin dalam rahimnya yang berhak hidup. Janin dari seorang pria brengsek yang memilih untuk meneruskan karir dan masa depan dibanding dengan membangun keluarga kecil dengannya dan calon anak mereka. Dia tahu kalau Hellena maupun Juro bahkan pihak lain akan terluka, kecewa akan perbuatannya. Namun tak ada jalan lain menurutnya, anaknya harus memiliki ayah.

“Maafkan aku, Hellena. Maafkan aku Juro. Aku tak tahu harus bagaimana.”

Hari ini adalah pernikahan teman SMA Juro dan Hellena. Karena Hellena sedang ada urusan di took bukunya jadi terpaksa Juro datang sendiri, tapi tanpa sepengetahuan Hellena maupun Juro seseorang berniat jahat menjebak Juro akan situasi yang mungkin akan membuatnya kehilangan Hellena, wanita yang iya cintai. Kehilangan masa indahnya dengan Hellena yang telah ia bangun dengan apik, tanpa bantuan arsitek. Cinta mereka telah diuji sekarang.

“Maaf.” Ucap Ayame lagi sambil melucuti baju Juro. Dia menangis ketika hendak membuka kancing Juro.

:::::::

Sebulan sudah Juro mendiamkan Hellena, tak ada lagi kata romantic yang biasanya terdengar tak ada lagi panggilan sayang untuknya. Tak ada senyum Juro yang semangat untuknya, seolah cahaya senyum itu redup. Satu bulan sudah saat Hellena menyiram tanaman dan mendapati Juro turun dari taksi bersama Ayame. Sudah bosankah Juro dengan Hellena? Dan kemarin yang paling mengejutkan baginya, Ayame memintanya untuk meninggalkan Juro. Apa maksudnya? Hal itu pulalah yang membuat Hellena bergegas meninggalkan kamarnya dan melangkahkan kaki mendekati pagar untuk pergi ke rumah kekasihnya, bersamaan ketika Pak Aki, menyeret putrinya. Rumah Ayame memang berad ditengah – tengah rumah Hellena dan Juro. Hellena mengikuti mereka tujuan mereka ternyata sama. Rumah Juro.

Juro terdiam, semuanya seolah runtuh seolah menubrukkan hidupnya dalam satu kalimat. Tatapan Tuan Aki yang seolah menjadikan vonis hukuman baginya menjalani sesuatu yang tak pernah dia lakukan. Hancur. ‘Hellena, aku mencintaimu. Oh tidak Hellena. Hellena. Hellena’ batin Juro. Ayah Juro masih menatap nanar dengan tatapan yang tak berkedip tamu yang ada dihadapannya. Ayahnya kecewa, kini mengalihkan pandangan untuk Juro. Ibunya seolah berkata, firasat ibu yang mengatakan bahwa Juro tak bersalah kini  mengelus tangan anaknya pelan.

“Aku ingin mereka segera dinikahkan.” Kata yang sukses membuat Juro tersentak, sukses membuat Hellena ambruk dari langkah tegapnya yang berdiri diambang pagar rumah yang tak ditutup. Hellena mendengar semuanya, mendengar Ayame hamil, mendengar rencana pernikahan kekasihnya dengan wanita lain. Rasa sesak ini, membuat air mata Hellena bercucuran. Juro menoleh kearah Helleana yang kini tersungkur, terduduk diambang pintu utama rumahnya.  Juro menangis dalam hati, ingin minta maaf pada Hellena karena telah terdiam lebih dari satu bulan. Juro merasa dirinya kotor. Sama halnya dengan Hellena, dada Juro juga sesak mendengar vonis hukuman untuknya.

“Hellena.” Juro menatap nanar Hellena. Menatap mata cokelat Hellena, ya bagaikan cokelat bertemu brownies. Namun tatapan yang biasanya diimbangi dengan senyum, tawa, senang, canda kini menjadi tangis. Hellena menangis, memaksakan kakinya untuk bangkit dan berlari meninggalkan rumah Juro. ‘Maafkan aku’ batin Ayame. ‘Tidak, aku tidak mau kehilangan Hellena’ batin Juro.

“Hellena.” Juro memalingkan badan dan berlari menyusul Hellena.

“Biarkan Juro kita bisa selesaikan tanpa dia.” Ucap Ayah Juro, membuat Tuan Aki tersentak. Tuan Rinji yang biasanya ramah kini sedeng marah besar sepertinya dia tak ingin dibantah oleh siapapun. Dingin. Ayama hanya terdiam, menutup matanya dan berkata dalam hati ‘Maafkan aku.’

::::::

Image

Juro mengejar Hellena tak dia pedulikan ayahnya, yang ia inginkan dia ingin bertemu dengan gadisnya, kekasihnya yang ia pilih untuk menjadi ibu dari anak – anaknya kelak. Juro tahu gadisnya tak begitu kuat dalam pelajaran olahraga tapi dia tak tahu kalau Hellena bisa lari secepat ini. Sebulan sudah dia menjadi pemuja rahasia yang hanya bisa melihat Hellena tanpa mendekatinya, karena merasa dirinya kotor. Menatap Hellena dari kejauhan seberapa besar keinginannya untuk memeluk dan menyandarkan bahunya pada Hellena. Dia tahan. Tahan. Yang tak membuatnya tahan adalah melihat Hellena menangis. Juro merasa salah seharusnya dia katakan yang sebenarnya pada Hellena. Ah tidak, dia katakan ataupun tidak itu akan tetap membuatnya kehilangan masa depannya bersama Hellena. Gadis yang ia cintai dan mencintainya selama 5 tahun. Kebersamaan yang lama itu hancur sudah hanya dengan satu kalimat  ‘Aku ingin mereka segera dinikahkan’. Bulir demi bulir air mata menetes jatuh dari iris hitamnya. Langkahnya begitu cepat menuju suatu tempat berharap Hellena berada disana. Semoga gadisnya berada disana. ‘Hellena. Hellena. Hellena. Aku mencintaimu’

Jelas sudah bagi Hellena, saat Juro turun dari taksi dengan wajah kusutnya bersama Ayame. Diperkuat dengan kata Orini yang mengatakan bahwa Judo mabuk berat dan Ayame menawarkan dirinya untuk mengantar Juro pulang. Hellena sangat mengenal kekasihnya, 5 tahun bersama, Juro tak mungkin minum terlalu banyak karena Judo sudah berjanji padanya dan Hellena percaya bahwa Juro tak mungkin mengingkari ataupun menarik kata – katanya. Jadi bolehkah dia berprasangka buruk pada Ayame?

Hellena masih menatap danau buatan yang kini telah terhiasi oleh kilauan warna orange senja. Entah kenapa matanya keluar begitu saja, dia usapnya air matanya dan kini wajahnya telah terlukiskan sebuah kesedihan dan sakit akibat rasa sesak dalam dada yang terus mendesak, semakin lama semakin sakit. Hellena memeluk lututnya memandang senja dari danau buatan. Berharap senja turun membenamkan dirinya dan juga membenamkan cintanya. Hellena enggan menatap seseorang yang kini berdiri disampingnya, napasnya memburu menandakan bahwa kerasnya dia memaksakan kaku untuk bisa berlari hingga bisa sampai berada disini. Hening.

Juro tak tahu apa yang harus ia katakan. Pada Hellena, gadis yang sedang memeluk lututnya, gadis yang ia cintai, gadis yang mencintainya selama ini. Hellena masih menatap kosong ke danau buatan. Angin bertiup pelan menerbangkan daun – daun, menerbangkan cintanya pergi jauh pula.

“Apa kita masih punya harapan?” suara yang biasanya terdengar lembut itu kini menjadi pecah dan parau. Juro tak tahu lagi harus bilang apa, dipeluknya gadis yang sedang memeluk lutut itu bagai kehilangan jiwanya. Harapan yang ia utarana di danau buatan sebulan yang lalu lenyap sudah. Lenyap bersama senja yang kini mulai membenamkan diri. “Aku mencintaimu, Hellena. Aku mencintaimu, jika aku memang melakukannya maka aku tak melakukan karena cinta. Aku hanya mencintaimu. Hanya kau, Hellena.” Kata Juro jujur, kata yang biasanya membuat Hellena memerah kini hanya bisa menjadi mantra yang tak akan pernah berhenti dia ucapkan.

“Aku mencintaimu.”

::::::

Semua terasa kosong bagi Hellena, seolah sesuatu menarik paksa hatinya untuk keluar dari tempatnya. Hellena hanya diam ketika memasuki rumah tanpa memberi ucapan salama. Keluarganya hanya memandangi keadaannya yang terlihat sangat kacau. Hellena melangkahkan kaki menaiki tangga menuju kamarnya tak memerhatikan sekelilingnya, seolah dunia hanya dia seorang sendiri didalamnya. Botan menejamkan mata, mencari ketenangan melihat keadaan putrinya, dia sudah tahu kabar tentang Juro dan apapun yang berhubungan dengan Juro pasti berimbas pada putrinya, entah itu sedih atau senang. Etsu mencegah Hebe yang ingin menyusul Hellena ketika melihat sang ayah berjalan ke kamar Hellena. Mereka beradu pandang dan mengikuti Ayah mereka menuju kamar Hellena.

Hal yang pertama yang Botan lihat ketika ia membuka kamar Hellena adalah gelap. Tangannya mencari saklar. Saklar yang ada dibalik pintu, mencari dengan meraba di dinding. Lampu menyala, mendapati putri yang amat dia cintai memandang dengan tatapan kosong ditepi ranjang. Matanya sebab, tak ada kelembutan, tak ada keceriaan seperti biasanya. Botan mendekati putrinya meraih puncak kepala sang anak kemudian menyandarkannya dipudaknya dengan mengelus pelan kepala anaknya, membiarkan sang anak menangis membasahi baju batiknya itu.

“Aku mencintainya, Ayah.” Suara pilu Hellena.

“Aku mencintainya, Ayah. Tolong jangan membencinya, Ayah.” Isak Hellena dalam belaian lembut dan pelukan sang ayah. Tubuhnya bergetar hebat direngkuhnya sang ayah. Sang ayah pun membalas pelukannya seolah melindungi putrinya agar tak hancur, Hellena memang tak hancur, tapi hatinya telah hancur berkeping – keping, hancur bersama cintanya, ayahnya tahu itu. Etsu dan Hebe hanya memandang diambang pintu, mereka berpelukan, keluarga ini menangisi perginya cinta sang putri.

“Aku mencintainya, Ayah.”

:::::::

Hari pernikahan Juro dan Ayame tinggal menghitung jam, tapi tak jua membuat Juro mau keluar kamar semenjak pertemuannya dengan Hellena. Pemuda itu hanya duduk dilantai bersender pada ranjangnya. Menatap sekian banyak foto dirinya bersama Hellena yang banyak dia pajang hampir memenuhi dinding kamarnya. Mencengkeram surai hitamnya. Frustasi. ‘Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena.’ Nama Hellena yang seolah menjadi tasbih baginya, Hellena yang ia cintai, Hellena yang mencintainya bersama dirinya sekian lama.

Rijin hanya mengelus pelan pundak sang istri agar tidar menangis kala bertemu Hellena. Gadis itu datang atas permintaan Ibu Juro untuk menemui anaknya. Karena berbagai macam cara telah ia lakukan agar Juro mau makan. Enggan ia menyentuh makanan. Hellena datang, kacau. Sama kacaunya dengan Juro, namun masih ada ketegaran yang tersimpan dimata cokelatnya. Penampilannya buruk. Sama buruknya dengan Juro. Hellena membawa nampan yang telah disiampkan Risako untuk anaknya, Hellena berjalan menuju kamar Juro, setelah Hellana menghilang dan menutup pintu. Risako menangis dipelukkan suaminya, menangisi nasib putranya serta gadis yang amat ia sayangi seperti anaknya sendiri. Hellena, gadis yang telah bersama anaknya selama ini.

Hellena menejamkan mata sekilas kala melirik Juro yang kacau. Kacau dan sama hancurnya seperti dirinya. Iris hitamnya kini meredup tertutup embun dan juga hujan air mata. Tak ada senyuman yang selalu menggoda Hellena. Tak ada sapaan romantis yang membuat pipinya bersemu merah.

“Juro.” Suara itu, suara itu yang ingin dia dengan layaknya lonceng kini dia menoleh melihat gadis yang sangat ia rindukan. Bukan halusinasi, Hellena kini duduk di tepi ranjang. Juro berjalan mendekati Hellena kini tangannya terulur. Sepasang cincin itu bertemu lagi tangan kiri Hellena, tanggan kanan Juro saling menyatu, sedangkan tangan Juro yang lain mengelus pipi Hellena. Keduanya kembali meneteskan air mata. Hellena berdiri hendak keluar namun Juro memeluknya dari belakang, Juro menjatuhkan diri diatas ranjang dengan posisi masih memeluk Hellena. Hellena sadar, ia tengah berada di kamar Juro.  Tak lama setelah suara dengkuran halus Juro terdengar dan Hellena ikut terbuai dalam mimpi, tertidur setalah beberapa malam mereka tak bisa menejamkan mata.

Sebuah gerakan kecil dari orang yang memeluknya menyadarkan lamunannya, Gadis itu masih terpaku menunggu reaksi dari Juro tapi sepertinya pemuda itu masih terdiam dan mengeratkan pelukannya terhadap Hellena. Lama terdiam. Hening. Kesunyian yang menemani mereka berdua.

“Kita masih punya kesempatan jika kau mau, Hellenaku sayang.” Hellena tak mengerti maksud Juro. Apa ia harus lari dengan meninggalkan keluarga dengan penuh rasa malu? Dan menanggung semuanya? Hellena memilih diam tidak menjawabnya. Hellena terkejut kala Juro mengecup pelan leher belakangnya, pria itu semakin menjalar dan mencium bibir, kening, leher, mata. Hellena hanya menangis. Juro seolah tak memerdulikan tangisan Hellena.

“Aku sungguh mencintaimu Hellena, Sungguh – sungguh mencintaimu. Aku tak ingin pisah denganmu Hellena.” Hellena hanya terdiam, meneteskan air matanya. Bulir jatuh menimpa pipi putihnya. Juro mencium bibir kekasihnya dan sukses menghilangkan ketakutan Hellena. Ini pertama kalinya untuk mereka, malam ini menjelang pernikahan Juro dengan wanita lain, pemuda itu menyatukan tubuhnya dengan Hellena, bukan, bukan nafsu. Tapi kasih sayang. Hellena menangs diantara rasa sakit yang ia rasakan, gadis itu menyerahkan semuanya sepenuhnya kepada pemuda yang akan menjadi milik orang lain.

:::::

Etsu menatap nanar sang adik yang berambut hitam panjang. Dia tak masih habis pikir, dengan apa yang dilakukan Hellena. Sudah lima tahun berlalu, wanita itu masih enggan mengatakan semuanya pada Juro. Masih sangat jelas dalam ingatannya saat pernikahan Juro  lima tahun lalu, gadis ini melihat pernikahan tersebut dengan tatapan kosong. Bahkan sebelum acara selesai dia pergi meninggalkan pesta tanpa mengucapkan selamat, pergi tanpa menoleh lagi kebelakang dengan beranggapan bahwa Juro adalah masa lalunya. Bahkan setelah pernikahan, Juro sudah berdiri didepan pagar rumah, berharap Hellena datang menemuinya. Tapi sayangnya Juro tak tahu jika Hellena telah mengikuti kata Botan sebelumnya. Etsu juga masih belum melupakan saat dimana Juro berlutut didepan Botan memohon agar bisa bertemu Hellena. Namun sang ayah hanya menatap datar dan menyuruh Juro melupakan Hellena. Namun saat tak bekerja Juro terus berdiri didepan pagar rumah berharap agar Hellena, orang yang ia rindukan menemuinya. Cincin perak masih juga tertata apik di jari manis tangan kanan Juro. Dia masih belum bisa melupakan Hellena.

Etsu sudah memberi tahu Hellena tentang perbedaan yang sangat mencolok antara Juro dengan anak yang dilahirkan Ayame. Warna rambut kontras, Juro hitam memiliki anak yang berambut merah, iris mata Juro yang hitam memilki anak beriris biru? Rasanya tak mungkin karena tak ada silsilah dikeluarga Juro maupun Ayame. Bahkan Juro telah bercerai dengan Ayame karena memang anak yang dilahirkan Ayame bukan anak Juro setelah sang anak menderita demam berdarah, golongan darahnya berbeda dengan orang tuanya. Bahkan cek darah yang telah membuktikan bahwa bukan anak Juro.

“Sampai kapan kau tak akan mengatakannya pada Juro? Kedua anakmu butuh ayahnya.”  Hellena masih menatap anak kembar laki – lakinya, anak kembar mereka Hellena dan Juro.

“Sampai ayah mereka menemui mereka.” Jawab Hellena datar, dengan tatapan yang masih saja menatap kedua anaknya yang bermain ayunan. ‘Ya Tuhan, kenapa mereka begitu mirip dengannya? Iris mata hitam, kulit tan, rambut yang hitam dan lebat, hidung, mulut. Semuanya milik Juro. Mereka memang anak Juro. Tuhan. Tapi kemiripan itu yang selalu membuatku sulit melupakannya. Apa aku berdosa?’ Batin Hellena. Tersenyum melihat iris mata anak – anaknya yang memancarkan kebahagiaan.

“Apa mereka tak pernah menanyakan tentang ayah mereka? Mereka sudah cukup ingin tahu Hellena. Umur mereka adalah masa yang kritis.”

“Pernah dan mungkin tak akan pernah lagi bertanya Kak” ucap Hebe membuat Etsu bingung dan menatapnya. Hebe membawa makanan kecil dan beberapa minuman kaleng dan mengambil tempat disamping Hellena, kini Hellena diapit kakak dan adiknya yang beranjak dewasa.

“Apa maksudmu?” tanya Etsu pada sang adik bungsu.

“Kak Hellena menangis hebat saat mereka bertanya tentang Kak Juro. Hingga Kak Hellena jatuh pingsan saat itu, mereka menangis karena melihat keadaan ibu meraka, mereka ketakutan, bergetar, di sela tangis mereka berjanji tak akan mengulang pertanyaan yang membuat ibunya seperti ini.” Jelas Hebe. Menceritakan kejadian beberapa minggu lalu. Kejadian di rumah yang selama ini Hellena tinggali bersamanya dan anak – anaknya.

Etsu melirik Hellena yang kini berjalan menghampiri anak – anaknya. Melihat Hellena yang masih memakai cincin perak sama seperti milik Juro hanya saja berukuran lebih kecil. Hellena menghampiri buah cintanya, Etsu merasakan sakit yang dialami adiknya hamil dan melahirkan tanpa suami disisinya. Sakitnya membesarkan anak tanpa ayah. Dia tak habis pikir kenapa dua insan yang saling mencinta harus berpisah karena dipermainkan takdir.

“Kakek!” teriak anak kembar Hellena, mengulurkan tangan pada Botan, sang ayah yang menjadi kakek itu tak membuang waktu lama dan mendekap cucunya.

‘Juro. Kau tak perlu kuatir, aku tidak sendirian, aku memilkiki tiga orang yang menyayangiku dan anak kita.’

Hellena berjalan bersama Ayah, adik dan kakaknya beserta anaknya yang berada didepan, berjalan menyusuri taman dan berhenti tepat di danau buatan. Danau buatan yang penuh menyisakan kenangan bagi Hellena. Entah tangis ataupun senang. Langkah mereka terhenti ketika Hellena melihat seseorang yang dia kenal, seseorang yang ia cintai, ayah dari kedua anak kembar identiknya.

“Juro.” Ucap Hellena membuat dia semakin terpaku. Juro tahu semuanya, tahu tentang pengakuan Ayame, Hellena yang pergi keluar negeri. Tapi dia tak tahu tentang anaknya. Karena Hellena tak pernah memberi tahunya. Dia mengira Hellena menikah dengan pria lain. Botan segera mengendong cucunya dan Etsu juga mengendong keponakannya yang lain. Hebe mengerti mereka membutukan waktu untuk berdua mereka pergi menyisakan Juro dan Hellena yang dibalut kesunyian.

“Hellena.” Hellena terseyum ketika orang yang ia cintai memanggil namanya. “Kau sudah menikah? Kulihat kau dipanggil mama oleh mereka? Kau kecewa padaku Hellena?” sambung Juro bertubi – tubi.

“Maaf, kau salah. Aku tak pernah mengingkari janjiku. Aku tak pernah menikah dengan pria manapun. Tapi aku memang telah mempunyai anak. Aku tak pernah ingkar padamu. Mereka milikmu Juro.” Jelas Hellena dengan mata yang mulai menampakkan bulir – bulirnya. Juro hanya terpaku, Hellena menepati janjinya, tak menikah dengan pria lain Hellena juga telah memenuhi janjinya, menjadi ibu dari anaknya. Hellena tak berpaling pada pria lain. Mereka hening kesunyian menjadi teman mereka lagi.

“Jadi, mereka?” tanya Juro penuh teka – teki. Matanya masih menatap Hellena. “Anakku? Anak kandungku, Hellena?”

Hellena menggangguk pelan. Juro meritikan air mata Hellena memang tak pernah mengingkari janji mereka di danau ini. Janji. Sedih. Pertemuan bahagia. Danau yang menjadi saksi cinta dan kesedihan mereka.

“Hellena.”

“Ya.”

“Aku mencintaimu.”

‘Aku tak pernah mengkhianatimu Hellena takdir yang menguji kita agar lebih kuat takdir yang membuat kita berpisah. Aku mencintaimu Hellena’

‘Juro, aku selalu mencintaimu itu janjiku. Aku tak pernah mengingkarinya.’

Lima tahun mereka berpisah umur mereka memang masih muda 25 dan 26. Namun cobaan yang membuat mereka dewasa. Kilauan senja itu membuat sepasang cincin perak bersilau. Cincin yang menjadi bukti bahwa Hellena tak melupakan Juro. Juro juga tak melupakan Hellena, karena disetiap napas tasbih Juro hanya untuk Hellena. ‘Hellena. Hellena. Hellena.’ Jarak antara meraka menipis, masih ada rasa canggung, namun rasa cinta dan rindu yang mendominasi perlahan tangan kekar Juro melingkar di pinggang Hellena. Sementara tangan Judo yang lain menuntun Hellena mendekatkan ke bibirnya. Bibir mereka bertemu, setelah lima tahun berpisah. Mereka berpegangan tangan dan berjalan meninggalkan danau karena senja telah tiba. Senyum keduanya terlukis kembali, senyum yang selama ini berganti tangis itu terlihat lagi.

“Kau tak ingin berkencan denganku, Hellena.”

“Maaf tidak, aku bukan Hellena yang dulu. Aku tak bisa berkencan denganmu.”

“Kau tak mencintaimu lagi?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku tak mungkin membiarkan anakku sendirian di rumah, sedangkan aku bersenang – senang.”

“Hei, mereka anakku juga, Hellena. Kita ajak mereka!”

“Kemana?”

“Ke warnet no 8 dan kantor urusan agama, kantor pencatatan sipil. Aku ingin menjadi ayah yang sesungguhnya untuk mereka, Hellena. Aku mencintaimu. Kau mencintaiku?”

“Aku mencintai dirimu. Dan-“

“Dan?”

“Anak kita.”

Senja memang telah pergi tapi kini cinta mereka belum jua pergi cinta yang akan selalu ada dan nyata untuk mereka, karena ketegaran dan keikhlasan. Tuhan tak mengingkari takdir mereka untuk bertemu lagi.

About pernakpernikbagusoke

Berfikir sebelum berbuat, Bertanggung jawab apa yang sudah diperbuat.. Karena Sejarah tak mengenal kata "Seandainya"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s