Posted on

With Me With Love

Image

Sebuah decitan dari kayuhan sepeda terdengar senada dengan digerakkan kakinya untuk mengayuh sepeda. Seorang gadis tampak menyeka peluhnya, rambut panjangnya terurai mengikuti arahan angin serta arah kayuhan sepedanya tak terlalu jauh jarak yang ia tempuh sekitar satu kilometer dari sekolahnya, kini ia telah sampai didepan pintu gerbang rumahnya. Ia segera menekan bel agar ada orang yang membukakan gerbang untuknya. Seorang laki – laki berambut panjang, berkulit putih pucat, bermata sama dengannya, cokelat datang mendekati gerbang dan membukakan pintu untuknya.

“Hellena, baru pulang? ” Kata laki – laki itu, Hellena hanya berdehem dan melangkahkan kaki masuk kedalam rumah sambil menuntun sepedanya.

“Hei, kau bisa bantu aku? Internet di rumah sedang bermasalah, bisakah kau pergi untuk mencarikan bahan makalah untukku?”

“Apa kau tak bisa sendiri, Kak? Itu tugasmu.” Protes Hellena.

“Apa kau tak ingin pergi melihat warnet tetangga baru kita? Mereka baru pindah satu minggu yang lalu dan membuka warnet hari ini.” Jelasnya.

“Baiklah.”

:::::::::::::::::

Hellena berjalan melangkahkan kaki putihnya menuju rumah yang tak begitu jauh dari rumahnya, hanya lima rumah dari rumah kediaman keluarganya. Gadis berambut panjang itu berdiri menatap dan memerhatikan sebuah rumah yang kini berada dihadapannya, rumah yang dijadikan warnet sekaligus. ZerOnet. Nama yang aneh baginya, gadis itu masuk melewati pintu kaca yang dibuka dengan menggesernya, mendapati sosok laki – laki yang berada di meja server. Laki – laki itu tersenyum, memamerkan sederet gigi putihnya, Hellena membalas senyum tipis.

“Hellena ya? Anakknya Pak Botan, adiknya Seung Hyun.”  Seru laki – laki paruh baya yang duduk di meja server itu. Hellena hanya bingung, kenapa beliau itu tahu namanya, bukannya dia baru pertama bertemu dengan bapak ini. Dia sendiri belum mengetahui nama  pemilik rumah ini sekaligus pemilik warnet ini.

“Iya, pak. Maaf kok bapak tahu nama saya? Apa kita pernah bertemu?” seru Hellena tanpa melepas senyum tipis dengan menatap laki – laki itu.

“Oh, saya sudah kenal dengan keluargamu, Ayah, Kakak dan Adikmu. Mungkin karena kau sekolah, Kakakmu Seung Hyun tadi bilang bahwa kau akan kemari mengerjakan tugas.” Papar sang pemilik warnet.

“Oh, saya sendiri belum tahu tentang bapak. Bapak sudah tahu hal tentang saya. Selamat datang di perumahan ini pak, semoga bapak beserta keluarga betah.” Hellena membungkukkan badan dan terseyum pada laki – laki itu, laki – laki paruh baya itu membalas senyummannya.

“Terima kasih. Kau anak yang manis, kau bisa memanggilku Rinji. Pak Rinji, tak mungkinkan kau memanggilku dengan nama saja.” Jawab sang pemilik warnet yang masih saja duduk di kursi kekuasaannya. Hellena hanya terkikik geli dalam hatinya tak ingin dia terlihat tak sopan jika menertawakan seseorang yang lebih tua darinya, bahkan lebih pantas menjadi ayahnya, bagaimana Hellena tak geli, baru kali ini dia bertemu dengan laki – laki paruh baya yang memiliki perawakan yang begitu hiperaktif.

“Iya, pak. Salam kenal. Maaf, apa ada yang kosong?” tanya Hellena dengan sopan.

“Banyak, tinggal kau pilih. Maklum masih baru buka, pilih nomor 6, 8, 10 dan 11.” Papar sang bapak.

“Nomor 6 saja pak.” Seru Hellena dengan senyum dan berjalan kearah bangku warnet nomor 6. Memilih nomor 6 memang dekat dengan jendela, jadi Hellena bisa mengetahui kejadian yang terjadi diluar, maklum dia bisa lupa waktu jika sudah meluncur di dunia maya.

Hellena menarik kursi menimbulkan sedikit decitan kecil, duduk dikursi dan masih memerhatikan sekelilingnya, warnet yang lumayan lengkap menurutnya, monitor, CPU, keyboard, mouse, kamera, headset, AC, dan beberapa buku tentang computer dan internet yang tertata rapi didekat meja server yang dilaluinya tadi. Ada yang lupa belum tersebutkan dibenak Hellena, atau mungkin Hellena belum melihatnya, sebuah caffe kecil yang berada disisi warnet, benar – benar orang yang memanfaatkan bisnis. Hellena menatap monitor yang kini ada dihadapannya, mencari tugas sang kakak. Memang apa sih mengerjakan tugas yang mudah, membuat makalah dan kemudian dipaparkan didepan kelas, apa kakaknya terlalu malas untuk ini semua? Tapi apa boleh buat, kakaknya telah berjanji mengerjakan tugasnya dirumah, ya Hellena memang tak memiliki ibu jadi sedikit banyak dia yang mengerjakan pekerjaan rumah.

Hellena mencabut USBnya dan berjalan menuju meja server untuk meng-print tugas Kakaknya Seung Hyun. Rambutnya terurai panjang, bulu mata lentiknya menari – nari sesekali menutupi mata cokelatnya. Dia telah sampai berada di meja server menyerahkan USBnya kepada sang server, tapi ada yang aneh. Tadi bukannya Pak Rinji memakai kemeja lengan pendek dengan warna putih, kok sekarang malah yang duduk di meja server itu laki – laki yang memakai kaus biru dengan bertuliskan BLACKLIST. Hellena tambah bingung, kok Pak Rinji begitu muda ya? Adakah mesin waktu agar membuat orang lebih muda?

“Print ya mbak?” tanya sang server.

“Eh, iya pak.” Jawab Hellena ragu. “Pak Rinji bukan sih.” Sambungnya dengan volume yang sangat kecil, mungkin juga sang server tak mendengarnya. Sang server hanya menatapnya dengan bibir yang mulai ditariknya, tersenyum kepada sang gadis dihadapannya mengambil USB Hellena yang sengaja dia taruh di meja server.

“Di folder apa mbak?” tanyanya pada Hellena lagi.

“Vanilla, pak. Judulnya Perkembangan Janin.” Jawab Hellena. Sang server itu hanya tersenyum melihat tingkah Hellena yang begitu lucu. Hellena hanya menunduk, karena dia tahu kalau laki – laki itu menatapnya. Menunduk dengan perasaan bertanya – tanya. ‘Kalau Pak Rinji pasti sudah tahu namaku? Kalau Pak Rinji tak mungkin akan semuda ini, siapa sih orang ini? Pak Rinji bukan sih? Ganteng banget. Eh, kok jadi mikir aneh – aneh.’ Batin Hellena.

Setelah selesai berurusan dengan tugas kakaknya, Hellena keluar dari warnet dan melangkah menuju rumahnya. Meninggalkan warnet yang kini sudah berjarak beberapa langkah darinya, langkahnya sedikit sulit karena pengunjung warnet yang mulai ramai, memarkirkan kendaraan mereka yang berserakan, membuat seseorang yang melewatinya sedikit kesulitan. Langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Dia berbalik dan mendapati Seung Hyun yang duduk di bangku café milik Pak Rinji juga. Hellena melangkah menuju kakaknya yang duduk disamping pemudi, ya pemudi yang kini sudah menjadi kekasih kakaknya. Min Ah, sekaligus teman sekelasnya. Ah tak bisa dibayangkan jika dia akan jadi adik ipar temannya itu, sangat aneh baginya tapi mau gimana lagi, inilah kenyataannya.

“Sudah, bagaimana tugas di rumah?” tanya Hellena, takut jika sang kakak tak mengerjakan tugasnya di rumah.

“Sudah. Nyiram halaman, nyapu halaman, taman belakang, nyapu rumah, ngambil daun yang ada di kolam renang.” Jelas sang Kakak.

“Bagus. Cepat banget. Bersih tidak?” Seru Hellena sambil menyerahkan tugas pada sang kakak.

“Beres, iyalah cepet bersih – bersihnya sama Min Ah.” Jelas Seung Hyun

“Kau masih punya tugas lain Hellena.” Seru Min Ah pada Hellena.

“Apa? Bukankah kalian sudah menyelesaikannya?” tanya Hellena bingung.

“Memasak.” Jawab Min Ah singkat.

“Ya, aku tak bisa masak.” Sambung Seung Hyun.

Hellena hanya mengangguk pelan, dia tahu bahwa kakak dan kekasihnya itu tak bisa memasak. Hellena kemudian berkacang pinggang membalikkan badannya dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Langkahnya sedikit terhenti ketika seorang pria paruh baya menyapanya, pria itu baru turun dari motor dengan membawa berbagai macam keperluan rumah, ada sayur, lauk dan beberapa bahan makanan lainnya.

“Sudah selesai Hellena?” tanya sang pria yang diketahui bernama Rinji.

“Iya, Pak. Permisi.” Seru Hellena seraya berjalan menuju rumahnya. ‘Bukannya tadi Pak Rinji di meja server? Kok sekarang ada diluar baru turun dari motor. Jadi yang tadi itu siapa? Kok mirip banget, mata hitamnya, kulit tannya, rambut hitamnya, senyumnya. Siapa ya tadi yang duduk di meja server sewaktu aku mau pulang?’ tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri. ‘Anak Pak Rinji? Ah kenapa aku tadi memanggilnya dengan sebutan ‘pak’. Bodohnya.’

::::::::::

Seminggu sudah kejadian yang dia alami di warnet sebelah rumahnya. Walaupun sudah satu minggu namun Hellena tak bisa menghilangkan begitu saja pertemuannya dengan anak Pak Rinji, entah mengapa Hellena berfikir bahwa itu anak Pak Rinji, ya karena Pak Rinji tak mungkin semuda itu. Hellena sekarang sedang menyirami halaman rumahnya dan menata beberapa pot yang sedikit berantakkan menurutnya, membuang dedaunan yang gugur dalam pot agar tak mengganggu pemandangan. Benar – benar sangat teliti.

“Hellena!”

“Apa Kak Seung Hyun?” seru Hellena tanpa menatap sang kakak, dia masih menatap kebawah, menatap pot bunga dengan jemari yang masih mengeluarkan daun – daun yang layu.

“Bisa bantu aku lagi? Carikan tugas tentang ‘darah’. Internet bermasalah lagi.” Jelas Seung Hyun pada adiknya. Apalagi ini, kenapa internet selalu mendukung untuk rusak jika Seung Hyun sedang memakainya. Kenapa kakaknya malas sekali untuk pergi sendiri?

“Tidak mau, kau tak punya alasan untuk menganti tugasku kan? Aku sudah menyelesaikannya semua dengan Minzy tadi, jadi untuk kali ini aku tak bisa.” Seru Hellena merasa dirinya menang, karena dia merasa malu jika nantinya harus bertemu dengan Pak Rinji ataupun anaknya.

“Kau yakin? Akan menolak untuk ini? Aku punya voucer belanja di butik, ya walaupun hanya satu gaun tapi, tak_” belum selesai Seung Hyun berbicara Hellena menyekanya.

“Okay, butik ya? Aku mau, tapi aku mau mandi dulu.” Jelas Hellena seraya berjalan menuju dalam rumah dan bergegas mandi. Bukannya matre sih, tapi wanita mana yang gak ngiler jika dapet voucer untuk satu gaun di butik? Sehemat – hematnya wanita pasti juga tetep belanja kan? Mumpung gratis. Sepertinya Kak Seung Hyun memiliki 1001 cara agar Hellena menurut, eh bukan nurut tapi lebih tepatnya pasrah.

“Sip.” Seru Seung Hyun yang mengikuti adiknya berjalan menuju dalam rumah.

“Oh ya Kak, Pak Rinji itu pekerjaannya apa sih?” tanya Hellena yang kini tengah berada didalam kamar mencari – cari bukunya, ya kalau – kalau ada tugas yang butuh dicarinya di internet, sekalian mengerjakan tugas sang kakak.

“Banyak usaha mereka, kayaknya pebisnis professional dech. Travel, mini market, sekarang tambah warnet dan café, padahal mereka belum lama pindah disini.” Jelas sang Seung Hyun.

“Oh.” Hellena ber’oh’ ria dan tersenyum. “Aku ternyata punya tugas Bahasa Inggris. Sekalian ngerjain tugas kakak. Oh ya mana voucernya?” sambung Hellena.

“Aku berikan setelah kau selesaikan tugasku. Tenang aku tak akan ingkar terhadap yang sudah aku bicarakan. Mandi sana gih, aku mau bantu Ayah di ruang kerja.” Ucap Seung Hyun seraya berjalan meninggalkan kamar sang adik menuju ruang kerja sang Ayah. Seung Hyun biasa membantu Ayahnya, Ayahnya pun sering meminta pendapat Seung Hyun untuk melakukan inovasi baru terhadap sekolah milik keluarga mereka, tapi kenapa? Kenapa? Ayahnya pemilik sebuah sekolah swasta yang terkenal di kotanya, anaknya malas untuk mengerjakan tugas yang sangat gampang. Tapi Seung Hyun bukanlah anak yang bodoh, dia cerdas, pintar, hanya saja malas. Sedikit malas.

Hellena kini terpaku menatap Warnet yang ada didepan matanya. ZerOnet.

“Hahahaa.” Seseorang tertawa ketika Hellena hendak melangkah, didapati laki – laki memakai kemeja batik dan terseyum padanya. Pak Rinji. Siapa lagi kalau bukan dia? Bapak paruh baya hiperaktif. “Kenapa Hellena natap warnet saya? Hahaha.” Sambung Pak Rinji, benar – benar kelakuan orang paruh baya yang super semangat.

“Maaf, Pak. Ada yang kosong? Kak Seung Hyun nyuruh saya menyelesaikan tugasnya karena internet di rumah bermasalah.” Jelas Hellena. Pak Rinji masih tetap tertawa memamerkan gigi putihnya dengan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Wah Hellena, udah penuh. Tapi bisa nebeng sama anak saya. Gratis buat Hellena. Dia dinomor 8. Jawab Pak Rinji sambil menatap computer di meja server. Aku hanya mengeritkan kening dan tersenyum.

“Anak bapak?”

“Iya, mungkin belum kenal. Dia kelas 1 SMA juga mungkin karena tidak satu sekolah jadi belum kenal. Tapi kalian pernah bertemu kok, mungkin kamu lupa ketemunya juga cuma sebentar. Udah sana, suruh dia bantuin kamu ngerjain tugas. Hehehe.” Jelas Pak Rinji disusul dengan tawa. Hellena berjalan menuju meja nomor 8. ‘Meja yang berada dipojok, kenapa dipojok sih? Gak ada jendelanya. Hah nomor 8, ada manusia ganteng disana, duduk menatap layar computer plasma, rambutnya hitam, kulitnya tan, hidungnya mancung, matanya hitam, tangannya kekar yang sedang menggerakkan mouse. Ya Tuhan, aku bisa pingsan di tempat ini. Ah jangan – jangan, malu dilihat orang.’ Batin Hellena.

“Penuh ya mbak?” tanya pemuda itu dengan mengangkat mukanya menatap Hellena yang masih terpaku didepan meja nomor 8nya.

“Iya Mas. Kata Pak Rinji, saya boleh nebeng di meja ini. Anaknya Pak Rinji kan?” tanya Hellena yang kemudian berjalan menuju kursi kosong yang ada disebelah kursi pemuda itu.

“Iya, mbak. Nama saya Min Ho.” Ucapnya.

“Oh, aku Hellena.”

“Aku sudah tahu kok. Sejak kejadian itu, kejadian saat kau memanggilku ‘Pak’. Satu minggu yang lalu, kalau kau mengerjakan tugas ‘perkembangan janin’.” Jelas Min Ho. Hellena merasa malu, kenapa dia baru menyadari bahwa Min Ho dan Pak Rinji saat sudah keluar dari warnet.

“Maaf, karena Masnya mirip banget sama Pak Rinji, maaf ya. Tapi masnya kok tahu nama saya? Ayah mas yang cerita?” kata Hellena dengan hati – hati.

“Gak apa – apa kok. Ya aku tahu dari Ayah. Oh ya? Mau ngerjain tugas ya? Apa tugasnya?” tanya Min Ho bertubi – tubi pada Hellena.

“Bukan tugasku semua sih mas, aku cuma nyari Narrative text. Selebihnya tugas Kak Seung Hyun.” Papar Hellena.

“Oh, kau ngopi saja punyaku Hellena. Kebetulan aku mendapat tugas yang sama, kau bisa ngopi punyaku. Mungkin hanya tinggal ganti nama dan juga bingkai yang menurutmu cocok.” Ujar Min Ho dengan senyum yang dia tujukan pada Hellena. ‘Oh Tuhan, makhluk ganteng ini. Maksudku Min Ho tersenyum padaku? Aku bisa pingsan, dia bahkan berada dekat denganku menawariku tugasnya untuk dikopi pula. Oh malaikat.’ Batin Hellena.

“Eh, Hellena. Ada yang salah?” ucap Min Ho karena tak mendapat jawaban dari Hellena.

“Eh? Gak kok mas.” Jawab Hellena gugup.

“Jangan panggil aku mas, aku hanya berbeda 1 tahun darimu.”

“Eh?”

“Iya. Aku tahu kau lahir satu tahun setelahku. Kau tahu sejak kejadian itu, kejadian dimana kau memanggilku ‘pak’ aku mencari informasi tentangmu. Mencari tahu namamu, ya aku bisa mendapat info iti dari ayah, tentang namamu, rumahmu, keluargamu dan aku mencari informasi yang aku bisa. Aku mencari Facebookmu, twittermu, my space, me2day ternyata mudah, kau cukup terkenal di internet, ketik namamu sudah ketemu. Aku menyukaimu Hellena. Mau kau jadi pacarku?” papar Min Ho. Pengakuan itu seketika membuat pipi Hellena merah padam. Benar – benar bisa pingsan Hellena saat ini.

“Mas Min Ho. Jujur juga aku juga penasaran sama mas.” Jelas Hellena memang tak begitu panjang dari pemaparan Min Ho tapi sukses membuat Min Ho memerah karena blushing.

“Jadi kau mau jadi pacarku?” tegas Min Ho meyakinkan.

“Eh?”

“Mungkin terlalu cepat Hellena, tapi ini memang benar, aku mencari info tentangmu dari Kakakmu Seung Hyun yang sering datang ke café dengan pacarnya, tanya pada Ayah. Bahkan bukan hanya mencari info aku juga sering memerhatikanmu, saat kau berangkat sekolah, menyiram bunga didepan rumah.”

“Aku..” Hellena menggantungkan ucapannya.

“Kalo gak mau gak apa – apa kok?” ucap Min Ho. ‘Aduh, mas jangan salah paham dong’ batin Hellena. ‘Hellena terima dong’ batin Min Ho.

“Maaf mas, bukan itu yang aku maskud. Aku mau kok mas.” Ujar Hellena dengan pipinya yang merah.

“DITERIMA?” teriak Min Ho yang sukses membuat pengunjung warnet menatap ke meja mereka. Benar – benar super duper hiperaktif.

“Psst, diem.” Kata pengunjung warnet serempak.

“Ya udah yuk Hellena ng-print.” Min Ho menarik lengan Hellena dan berjalan menuju meja server ayahnya dengan tangan tetap memegangi lengan Hellena. Setelah sampai, Min Ho minta tolong pada sang ayah untuk mencetak tugas mereka melalui printer.

“Cieeh, baru jadian yak? Cieee banget.” Goda Pak Rinji yang sukses membuat wajah mereka merah padam entah karena malu atau senang. Hellena memilih menunduk menutupi pipinnya yang memerah sedangkan Min Ho hanya terseyum dan menunjukkan jari jempolnya pada sang ayah.

“Wah, anakku sudah besar ya? Udah punya pacar. Cantik pula.” Goda sang Rinji. Ayah Min Ho.

Sungguh hari yang indah untuk Hellena sudah dapat voucer belanja gaun di butik, jugasnya selesai dengan cepat, dapat pacar pula. Min Ho cinta pertamanya, pemuda yang membuatnya bersemu merah, pemuda yang membuatnya selalu ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah membuat dirinya merasakan rasa cinta, membuatnya bahagia dan membuatnya merasakan malu, senang secara bersama. ‘Terima kasih Min Ho’ ucap Hellena dalam hati. ‘Aku mencintaimu Hellena, selamanya.’ Batin Min Ho.

::::::::

Lima tahun sudah Hellena dan Min Ho menjalin hubungan, kedua orang tua mereka beserta keluarga juga sudah tahu akan hubungan mereka. Langgeng. Sejak kelas 1 SMA. Sejak umur Hellena 15 tahun, umur Min Ho 16 tahun. Sekarang keduanya telah berubah, Hellena tumbuh menjadi wanita yang lembut, cerdas, baik, pengasih. Hellena sekarang mengurus toko milik keluarganya. Toko buku, ya buku. Hobby Hellena memang membaca buku, Hellena tak ingin mengurus sekolah swasta milik keluarga, menurutnya kakanya lebih pantas akan hal itu. Min Ho kini dia telah menjadi pria hebat, tubuhnya tegap, tangannya bertambah kekar, sekarang dia menggeluti bisnis travel milik sang ayah.

Min Ho mengambil alih keranjang piknik yang berada di tangan Hellena, ketangan kirinya. Sedangkan tangan yang lainnya menggenggam tangan Hellena. Mereka masih melukiskan senyum yang terpancar dari bibir mereka tak ingin menghapus senyum itu. Mereka berjalan menyusuri jalan taman yang ramai dikunjungi penghuni perumahan yang mereka tinggali menacari tempat yang sepi untuk piknik mereka berdua. Min Ho semakin menggeratkan pengangan di tangan Hellena, tak peduli dengan wajah Hellena yang semakin merah seperti tomat. Rambut hitam panjang Hellena bergoyang mengikuti langkah kaki, langkah kaki yang dituntun Min Ho.

“Kita sampai.” Ucap Min Ho yang kemudian mengelar alas piknik bewarna pink diatas rumput. Diletakkannya bekal piknik yang telah dibawa Hellena diujung. Hellena duduk bersimpuh, jemarinya menyeka keringat yang bercucuran, mengibas – ibaskan tangannya agar menciptakan sedikit udara. Min Ho hanya menatap Hellena dengan senyum yang masih ia lukiskan. Hellena menatap Min Ho dan tersenyum pada kekasihnya.

“Ada yang salah denganku?” tanya Hellena pelan agar Min Ho tak marah, maklum Hellena sudah bersama Min Ho lama jadi hafal dengan tingkah Min Ho yang suka meledak ledak.

“Banyak, kau harus minta maaf.”

“Baiklah, sebutkan apa salahku Tuan Min Ho!”

“Kau menantang rupanya. Aku akan menjawab jika kau berkata ‘Ya’.”

“Ya.”

“Kau akan mencintaiku?”

“Ya.”

“Tak akan berpaling dariku, jika ada pria lain.”

“Ya.”

“Akan setia padaku?”

“Ya.”

“Akan menjadi istriku?”

“Ya.”

“Akan memberikanku banyak anak?”

“Ya.”

“Baiklah.”

“Eh, kau bilang apa barusan? Setelah menikah.” Ucap Hellena. Min Ho menatap tanah dan mengambil batu melemparkannya ke danau buatan sehingga membuat pantulan katak diatas kolam. Hellena hanya terdiam melihat kekasihnya. Apa ada perkataan Hellena yang salah? Apakah Min Ho marah? Mereka masih terdiam. Min Ho kemudian duduk kemudian meletakkan kepalanya di paha Hellena yang ia jadikan bantal.

“Aku tak marah Hellena. Jangan diam seperti itu. Aku mencintaimu Hellena.” Ucap Min Ho. Seolah bisa membaca pikiran kekasihnya, Hellena terseyum mendengar pengakuan Min Ho. Kini Min Ho bisa menatap wajah Hellena yang menunduk kearahnya. Perlahan tapi pasti tangan kiri Min Ho menuntun Hellena untuk mendekat ke wajahnya, jarak mereka sekarang tampak tak ada, tangan Min Ho terus menuntun Hellena mendekati bibirnya dan kini tangan Hellena yang sebelumnya membelai rambut hitam Min Ho meremas baju bagian belakang Min Ho. Bukan ciuman yang penuh nafsu, tapi ciuman yang penuh kasih. Dengan perlahan Min Ho dan Hellena melepaskannya kini wajah mereka bersemu merah Min Ho kembali menjadikan paha Hellena menjadi bantal dan mencoba menyembunyikan wajah merahnya ke perut ramping Hellena. Sungguh Min Ho yang dewasa kini bisa jadi anak yang manja jika bersama Hellena.

“Kau tak ingin mencoba bekal yang telah aku buat?” tanya Hellena yang masih membelai rambut Min Ho. Pemuda itu bangun dari baringannya dan duduk disisi Hellena, tangannya meraih kotak bekal bewarna hijau yang dibalut dengan penutup bekal bewarna biru muda. Warna kesukaan mereka hanya saja Hellena menyukai warna yang sedikit muda sedangkan Min Ho lebih suka dengan warna yang gelap.

“Kau masak apa hari ini, Nyonya Min Ho.” Goda Min Ho pada Hellena, benar saja Hellena menjadi malu.

“Kita belum menikah, panggil aku Nyonya Min Ho setelah kita menikah.” Tegas Hellena yang masih dengan wajah memerah. Min Ho tak memerdulikan hal itu dia membuka kotak bekal dan mendapati makanan kasukaannya. Roti gulung dengan warna pelangi.

“Hei, mau sampai kapan kau menolak jika aku goda? Bisa – bisa warna merah di pipimu itu jadi permanen.” Goda Min Ho sambil melahap bekal piknik mereka. Min Ho teringat akan sesuatu, dia merogoh sakunya mengambil sesuatu yang ada disana, sepasang cincin perak. Dia pasangkan cincin yang berukuran kecil dijari manis tangan kiri Hellena dan ketika ia akan memasang cincin yang satu di jari manis tangan kanannya Hellena mengambil cincin itu dan memasangkan cincin itu pada tangan Min Ho. Mereka tersenyum dengan masih dalam keadaan hening.

“Hellena, memang aku masih belum bisa melamarmu secara resmi. Tapi aku harap kau mau memakai cincin ini. Memang tak bisa mengikat raga kita, tapi setidaknya bisa mengikat cinta kita.” Ujar Min Ho.

“hmm”

“Maukah kau menjadi Nyonya Min Ho? Menjadi istri sekaligus ibu untuk anak – anakku nanti, Hellena?”

“Baiklah, aku tak bisa menolak.” Tutur Hellena dengan senyum. Mereka berpelukan disamping danau buatan, yang menjadi saksi bisu akan lamaran Min Ho pada Hellena.

:::::::

Wanita muda itu sedikit kepayahan tatkala dia sedang menuntun Min Ho bersamanya menuju kamar hotel, yang sudah dipesannya dengan susah payah. Wanita itu tak punya pilihan jika tidak melakukan ini, karena dia tak mungkin menggugurkan kandungannya, ya ada janin dalam rahimnya yang berhak hidup. Janin dari seorang pria brengsek yang memilih untuk meneruskan karir dan masa depan dibanding dengan membangun keluarga kecil dengannya dan calon anak mereka. Dia tahu kalau Hellena maupun Min Ho bahkan pihak lain akan terluka, kecewa akan perbuatannya. Namun tak ada jalan lain menurutnya, anaknya harus memiliki ayah.

“Maafkan aku, Hellena. Maafkan aku Min Ho. Aku tak tahu harus bagaimana.”

Hari ini adalah pernikahan teman SMA Min Ho dan Hellena. Karena Hellena sedang ada urusan di toko bukunya jadi terpaksa Min Ho datang sendiri, tapi tanpa sepengetahuan Hellena maupun Min Ho seseorang berniat jahat menjebak Min Ho akan situasi yang mungkin akan membuatnya kehilangan Hellena, wanita yang ia cintai. Kehilangan masa indahnya dengan Hellena yang telah ia bangun dengan apik, tanpa bantuan arsitek. Cinta mereka telah diuji sekarang.

“Maaf.” Ucap Ayame lagi sambil melucuti baju Min Ho. Dia menangis ketika hendak membuka kancing Min Ho.

:::::::

Sebulan sudah Min Ho mendiamkan Hellena, tak ada lagi kata romantis yang biasanya terdengar tak ada lagi panggilan sayang untuknya. Tak ada senyum Min Ho yang semangat untuknya, seolah cahaya senyum itu redup. Satu bulan sudah saat Hellena menyiram tanaman dan mendapati Min Ho turun dari taksi bersama Ayame. Sudah bosankah Min Ho dengan Hellena? Dan kemarin yang paling mengejutkan baginya, Ayame memintanya untuk meninggalkan Min Ho. Apa maksudnya? Hal itu pulalah yang membuat Hellena bergegas meninggalkan kamarnya dan melangkahkan kaki mendekati pagar untuk pergi ke rumah kekasihnya, bersamaan ketika Pak Aki, menyeret putrinya. Rumah Ayame memang berada ditengah – tengah rumah Hellena dan Min Ho. Hellena mengikuti mereka tujuan mereka ternyata sama. Rumah Min Ho.

Min Ho terdiam, semuanya seolah runtuh seolah menubrukkan hidupnya dalam satu kalimat. Tatapan Tuan Aki yang seolah menjadikan vonis hukuman baginya menjalani sesuatu yang tak pernah dia lakukan. Hancur. ‘Hellena, aku mencintaimu. Oh tidak Hellena. Hellena. Hellena’ batin Min Ho. Ayah Min Ho masih menatap nanar dengan tatapan yang tak berkedip tamu yang ada dihadapannya. Ayahnya kecewa, kini mengalihkan pandangan untuk Min Ho. Ibunya seolah berkata, firasat ibu yang mengatakan bahwa Min Ho tak bersalah kini  mengelus tangan anaknya pelan.

“Aku ingin mereka segera dinikahkan.” Kata yang sukses membuat Min Ho tersentak, sukses membuat Hellena ambruk dari langkah tegapnya yang berdiri diambang pagar rumah yang tak ditutup. Hellena mendengar semuanya, mendengar Ayame hamil, mendengar rencana pernikahan kekasihnya dengan wanita lain. Rasa sesak ini, membuat air mata Hellena bercucuran. Min Ho menoleh kearah Helleana yang kini tersungkur, terduduk diambang pintu utama rumahnya.  Min Ho menangis dalam hati, ingin minta maaf pada Hellena karena telah terdiam lebih dari satu bulan. Min Ho merasa dirinya kotor. Sama halnya dengan Hellena, dada Min Ho juga sesak mendengar vonis hukuman untuknya.

“Hellena.” Min Ho menatap nanar Hellena. Menatap mata cokelat Hellena, ya bagaikan cokelat bertemu brownies. Namun tatapan yang biasanya diimbangi dengan senyum, tawa, senang, canda kini menjadi tangis. Hellena menangis, memaksakan kakinya untuk bangkit dan berlari meninggalkan rumah Min Ho. ‘Maafkan aku’ batin Ayame. ‘Tidak, aku tidak mau kehilangan Hellena’ batin Min Ho.

“Hellena.” Min Ho memalingkan badan dan berlari menyusul Hellena.

“Biarkan Min Ho kita bisa selesaikan tanpa dia.” Ucap Ayah Min Ho, membuat Tuan Aki tersentak. Tuan Rinji yang biasanya ramah kini sedeng marah besar sepertinya dia tak ingin dibantah oleh siapapun. Dingin. Ayama hanya terdiam, menutup matanya dan berkata dalam hati ‘Maafkan aku.’

::::::

Min Ho mengejar Hellena tak dia pedulikan ayahnya, yang ia inginkan dia ingin bertemu dengan gadisnya, kekasihnya yang ia pilih untuk menjadi ibu dari anak – anaknya kelak. Min Ho tahu gadisnya tak begitu kuat dalam pelajaran olahraga tapi dia tak tahu kalau Hellena bisa lari secepat ini. Sebulan sudah dia menjadi pemuja rahasia yang hanya bisa melihat Hellena tanpa mendekatinya, karena merasa dirinya kotor. Menatap Hellena dari kejauhan seberapa besar keinginannya untuk memeluk dan menyandarkan bahunya pada Hellena. Dia tahan. Tahan. Yang tak membuatnya tahan adalah melihat Hellena menangis. Min Ho merasa salah seharusnya dia katakan yang sebenarnya pada Hellena. Ah tidak, dia katakan ataupun tidak itu akan tetap membuatnya kehilangan masa depannya bersama Hellena. Gadis yang ia cintai dan mencintainya selama 5 tahun. Kebersamaan yang lama itu hancur sudah hanya dengan satu kalimat  ‘Aku ingin mereka segera dinikahkan’. Bulir demi bulir air mata menetes jatuh dari iris hitamnya. Langkahnya begitu cepat menuju suatu tempat berharap Hellena berada disana. Semoga gadisnya berada disana. ‘Hellena. Hellena. Hellena. Aku mencintaimu’

Jelas sudah bagi Hellena, saat Min Ho turun dari taksi dengan wajah kusutnya bersama Ayame. Diperkuat dengan kata Min Ah yang mengatakan bahwa Judo mabuk berat dan Ayame menawarkan dirinya untuk mengantar Min Ho pulang. Hellena sangat mengenal kekasihnya, 5 tahun bersama, Min Ho tak mungkin minum terlalu banyak karena Judo sudah berjanji padanya dan Hellena percaya bahwa Min Ho tak mungkin mengingkari ataupun menarik kata – katanya. Jadi bolehkah dia berprasangka buruk pada Ayame?

Hellena masih menatap danau buatan yang kini telah terhiasi oleh kilauan warna orange senja. Entah kenapa matanya keluar begitu saja, dia usapnya air matanya dan kini wajahnya telah terlukiskan sebuah kesedihan dan sakit akibat rasa sesak dalam dada yang terus mendesak, semakin lama semakin sakit. Hellena memeluk lututnya memandang senja dari danau buatan. Berharap senja turun membenamkan dirinya dan juga membenamkan cintanya. Hellena enggan menatap seseorang yang kini berdiri disampingnya, napasnya memburu menandakan bahwa kerasnya dia memaksakan kaku untuk bisa berlari hingga bisa sampai berada disini. Hening.

Min Ho tak tahu apa yang harus ia katakan. Pada Hellena, gadis yang sedang memeluk lututnya, gadis yang ia cintai, gadis yang mencintainya selama ini. Hellena masih menatap kosong ke danau buatan. Angin bertiup pelan menerbangkan daun – daun, menerbangkan cintanya pergi jauh pula.

“Apa kita masih punya harapan?” suara yang biasanya terdengar lembut itu kini menjadi pecah dan parau. Min Ho tak tahu lagi harus bilang apa, dipeluknya gadis yang sedang memeluk lutut itu bagai kehilangan jiwanya. Harapan yang ia utarana di danau buatan sebulan yang lalu lenyap sudah. Lenyap bersama senja yang kini mulai membenamkan diri. “Aku mencintaimu, Hellena. Aku mencintaimu, jika aku memang melakukannya maka aku tak melakukan karena cinta. Aku hanya mencintaimu. Hanya kau, Hellena.” Kata Min Ho jujur, kata yang biasanya membuat Hellena memerah kini hanya bisa menjadi mantra yang tak akan pernah berhenti dia ucapkan.

“Aku mencintaimu.”

::::::

Semua terasa kosong bagi Hellena, seolah sesuatu menarik paksa hatinya untuk keluar dari tempatnya. Hellena hanya diam ketika memasuki rumah tanpa memberi ucapan salama. Keluarganya hanya memandangi keadaannya yang terlihat sangat kacau. Hellena melangkahkan kaki menaiki tangga menuju kamarnya tak memerhatikan sekelilingnya, seolah dunia hanya dia seorang sendiri didalamnya. Botan menejamkan mata, mencari ketenangan melihat keadaan putrinya, dia sudah tahu kabar tentang Min Ho dan apapun yang berhubungan dengan Min Ho pasti berimbas pada putrinya, entah itu sedih atau senang. Seung Hyun mencegah Minzy yang ingin menyusul Hellena ketika melihat sang ayah berjalan ke kamar Hellena. Mereka beradu pandang dan mengikuti Ayah mereka menuju kamar Hellena.

Hal yang pertama yang Botan lihat ketika ia membuka kamar Hellena adalah gelap. Tangannya mencari saklar. Saklar yang ada dibalik pintu, mencari dengan meraba di dinding. Lampu menyala, mendapati putri yang amat dia cintai memandang dengan tatapan kosong ditepi ranjang. Matanya sebab, tak ada kelembutan, tak ada keceriaan seperti biasanya. Botan mendekati putrinya meraih puncak kepala sang anak kemudian menyandarkannya dipudaknya dengan mengelus pelan kepala anaknya, membiarkan sang anak menangis membasahi baju batiknya itu.

“Aku mencintainya, Ayah.” Suara pilu Hellena.

“Aku mencintainya, Ayah. Tolong jangan membencinya, Ayah.” Isak Hellena dalam belaian lembut dan pelukan sang ayah. Tubuhnya bergetar hebat direngkuhnya sang ayah. Sang ayah pun membalas pelukannya seolah melindungi putrinya agar tak hancur, Hellena memang tak hancur, tapi hatinya telah hancur berkeping – keping, hancur bersama cintanya, ayahnya tahu itu. Seung Hyun dan Minzy hanya memandang diambang pintu, mereka berpelukan, keluarga ini menangisi perginya cinta sang putri.

“Aku mencintainya, Ayah.”

:::::::

Hari pernikahan Min Ho dan Ayame tinggal menghitung jam, tapi tak jua membuat Min Ho mau keluar kamar semenjak pertemuannya dengan Hellena. Pemuda itu hanya duduk dilantai bersender pada ranjangnya. Menatap sekian banyak foto dirinya bersama Hellena yang banyak dia pajang hampir memenuhi dinding kamarnya. Mencengkeram surai hitamnya. Frustasi. ‘Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena. Hellena.’ Nama Hellena yang seolah menjadi tasbih baginya, Hellena yang ia cintai, Hellena yang mencintainya bersama dirinya sekian lama.

Rinji hanya mengelus pelan pundak sang istri agar tidar menangis kala bertemu Hellena. Gadis itu datang atas permintaan Ibu Min Ho untuk menemui anaknya. Karena berbagai macam cara telah ia lakukan agar Min Ho mau makan. Enggan ia menyentuh makanan. Hellena datang, kacau. Sama kacaunya dengan Min Ho, namun masih ada ketegaran yang tersimpan dimata cokelatnya. Penampilannya buruk. Sama buruknya dengan Min Ho. Hellena membawa nampan yang telah disiampkan Risako untuk anaknya, Hellena berjalan menuju kamar Min Ho, setelah Hellana menghilang dan menutup pintu. Risako menangis dipelukkan suaminya, menangisi nasib putranya serta gadis yang amat ia sayangi seperti anaknya sendiri. Hellena, gadis yang telah bersama anaknya selama ini.

Hellena menejamkan mata sekilas kala melirik Min Ho yang kacau. Kacau dan sama hancurnya seperti dirinya. Iris hitamnya kini meredup tertutup embun dan juga hujan air mata. Tak ada senyuman yang selalu menggoda Hellena. Tak ada sapaan romantis yang membuat pipinya bersemu merah.

“Min Ho.” Suara itu, suara itu yang ingin dia dengan layaknya lonceng kini dia menoleh melihat gadis yang sangat ia rindukan. Bukan halusinasi, Hellena kini duduk di tepi ranjang. Min Ho berjalan mendekati Hellena kini tangannya terulur. Sepasang cincin itu bertemu lagi tangan kiri Hellena, tanggan kanan Min Ho saling menyatu, sedangkan tangan Min Ho yang lain mengelus pipi Hellena. Keduanya kembali meneteskan air mata. Hellena berdiri hendak keluar namun Min Ho memeluknya dari belakang, Min Ho menjatuhkan diri diatas ranjang dengan posisi masih memeluk Hellena. Hellena sadar, ia tengah berada di kamar Min Ho.  Tak lama setelah suara dengkuran halus Min Ho terdengar dan Hellena ikut terbuai dalam mimpi, tertidur setalah beberapa malam mereka tak bisa menejamkan mata.

Sebuah gerakan kecil dari orang yang memeluknya menyadarkan lamunannya, Gadis itu masih terpaku menunggu reaksi dari Min Ho tapi sepertinya pemuda itu masih terdiam dan mengeratkan pelukannya terhadap Hellena. Lama terdiam. Hening. Kesunyian yang menemani mereka berdua.

“Kita masih punya kesempatan jika kau mau, Hellenaku sayang.” Hellena tak mengerti maksud Min Ho. Apa ia harus lari dengan meninggalkan keluarga dengan penuh rasa malu? Dan menanggung semuanya? Hellena memilih diam tidak menjawabnya. Hellena terkejut kala Min Ho mengecup pelan leher belakangnya, pria itu semakin menjalar dan mencium bibir, kening, leher, mata. Hellena hanya menangis. Min Ho seolah tak memerdulikan tangisan Hellena.

“Aku sungguh mencintaimu Hellena, Sungguh – sungguh mencintaimu. Aku tak ingin pisah denganmu Hellena.” Hellena hanya terdiam, meneteskan air matanya. Bulir jatuh menimpa pipi putihnya. Min Ho mencium bibir kekasihnya dan sukses menghilangkan ketakutan Hellena. Ini pertama kalinya untuk mereka, malam ini menjelang pernikahan Min Ho dengan wanita lain, pemuda itu menyatukan tubuhnya dengan Hellena, bukan, bukan nafsu. Tapi kasih sayang. Hellena menangis diantara rasa sakit yang ia rasakan, gadis itu menyerahkan semuanya sepenuhnya kepada pemuda yang akan menjadi milik orang lain.

:::::

Seung Hyun menatap nanar sang adik yang berambut hitam panjang. Dia tak masih habis pikir, dengan apa yang dilakukan Hellena. Sudah lima tahun berlalu, wanita itu masih enggan mengatakan semuanya pada Min Ho. Masih sangat jelas dalam ingatannya saat pernikahan Min Ho  lima tahun lalu, gadis ini melihat pernikahan tersebut dengan tatapan kosong. Bahkan sebelum acara selesai dia pergi meninggalkan pesta tanpa mengucapkan selamat, pergi tanpa menoleh lagi kebelakang dengan beranggapan bahwa Min Ho adalah masa lalunya. Bahkan setelah pernikahan, Min Ho sudah berdiri didepan pagar rumah, berharap Hellena datang menemuinya. Tapi sayangnya Min Ho tak tahu jika Hellena telah mengikuti kata Botan sebelumnya. Seung Hyun juga masih belum melupakan saat dimana Min Ho berlutut didepan Botan memohon agar bisa bertemu Hellena. Namun sang ayah hanya menatap datar dan menyuruh Min Ho melupakan Hellena. Namun saat tak bekerja Min Ho terus berdiri didepan pagar rumah berharap agar Hellena, orang yang ia rindukan menemuinya. Cincin perak masih juga tertata apik di jari manis tangan kanan Min Ho. Dia masih belum bisa melupakan Hellena.

Seung Hyun sudah memberi tahu Hellena tentang perbedaan yang sangat mencolok antara Min Ho dengan anak yang dilahirkan Ayame. Warna rambut kontras, Min Ho hitam memiliki anak yang berambut merah, iris mata Min Ho yang hitam memilki anak beriris biru? Rasanya tak mungkin karena tak ada silsilah dikeluarga Min Ho maupun Ayame. Bahkan Min Ho telah bercerai dengan Ayame karena memang anak yang dilahirkan Ayame bukan anak Min Ho setelah sang anak menderita demam berdarah, golongan darahnya berbeda dengan orang tuanya. Bahkan cek darah yang telah membuktikan bahwa bukan anak Min Ho.

“Sampai kapan kau tak akan mengatakannya pada Min Ho? Kedua anakmu butuh ayahnya.”  Hellena masih menatap anak kembar laki – lakinya, anak kembar mereka. Hellena dan Min Ho.

“Sampai ayah mereka menemui mereka.” Jawab Hellena datar, dengan tatapan yang masih saja menatap kedua anaknya yang bermain ayunan. ‘Ya Tuhan, kenapa mereka begitu mirip dengannya? Iris mata hitam, kulit tan, rambut yang hitam dan lebat, hidung, mulut. Semuanya milik Min Ho. Mereka memang anak Min Ho. Tuhan. Tapi kemiripan itu yang selalu membuatku sulit melupakannya. Apa aku berdosa?’ Batin Hellena. Tersenyum melihat iris mata anak – anaknya yang memancarkan kebahagiaan.

“Apa mereka tak pernah menanyakan tentang ayah mereka? Mereka sudah cukup ingin tahu Hellena. Umur mereka adalah masa yang kritis.”

“Pernah dan mungkin tak akan pernah lagi bertanya Kak” ucap Minzy membuat Seung Hyun bingung dan menatapnya. Minzy membawa makanan kecil dan beberapa minuman kaleng dan mengambil tempat disamping Hellena, kini Hellena diapit kakak dan adiknya yang beranjak dewasa.

“Apa maksudmu?” tanya Seung Hyun pada sang adik bungsu.

“Kak Hellena menangis hebat saat mereka bertanya tentang Kak Min Ho. Hingga Kak Hellena jatuh pingsan saat itu, mereka menangis karena melihat keadaan ibu meraka, mereka ketakutan, bergetar, di sela tangis mereka berjanji tak akan mengulang pertanyaan yang membuat ibunya seperti ini.” Jelas Minzy. Menceritakan kejadian beberapa minggu lalu. Kejadian di rumah yang selama ini Hellena tinggali bersamanya dan anak – anaknya.

Seung Hyun melirik Hellena yang kini berjalan menghampiri anak – anaknya. Melihat Hellena yang masih memakai cincin perak sama seperti milik Min Ho hanya saja berukuran lebih kecil. Hellena menghampiri buah cintanya, Seung Hyun merasakan sakit yang dialami adiknya hamil dan melahirkan tanpa suami disisinya. Sakitnya membesarkan anak tanpa ayah. Dia tak habis pikir kenapa dua insan yang saling mencinta harus berpisah karena dipermainkan takdir.

“Kakek!” teriak anak kembar Hellena, mengulurkan tangan pada Botan, sang ayah yang menjadi kakek itu tak membuang waktu lama dan mendekap cucunya.

‘Min Ho. Kau tak perlu kuatir, aku tidak sendirian, aku memilkiki tiga orang yang menyayangiku dan anak kita.’

Hellena berjalan bersama Ayah, adik dan kakaknya beserta anaknya yang berada didepan, berjalan menyusuri taman dan berhenti tepat di danau buatan. Danau buatan yang penuh menyisakan kenangan bagi Hellena. Entah tangis ataupun senang. Langkah mereka terhenti ketika Hellena melihat seseorang yang dia kenal, seseorang yang ia cintai, ayah dari kedua anak kembar identiknya.

“Min Ho.” Ucap Hellena membuat dia semakin terpaku. Min Ho tahu semuanya, tahu tentang pengakuan Ayame, Hellena yang pergi keluar negeri. Tapi dia tak tahu tentang anaknya. Karena Hellena tak pernah memberi tahunya. Dia mengira Hellena menikah dengan pria lain. Botan segera mengendong cucunya dan Seung Hyun juga mengendong keponakannya yang lain. Minzy mengerti mereka membutukan waktu untuk berdua mereka pergi menyisakan Min Ho dan Hellena yang dibalut kesunyian.

“Hellena.” Hellena terseyum ketika orang yang ia cintai memanggil namanya. “Kau sudah menikah? Kulihat kau dipanggil mama oleh mereka? Kau kecewa padaku Hellena?” sambung Min Ho bertubi – tubi.

“Maaf, kau salah. Aku tak pernah mengingkari janjiku. Aku tak pernah menikah dengan pria manapun. Tapi aku memang telah mempunyai anak. Aku tak pernah ingkar padamu. Mereka milikmu Min Ho.” Jelas Hellena dengan mata yang mulai menampakkan bulir – bulirnya. Min Ho hanya terpaku, Hellena menepati janjinya, tak menikah dengan pria lain Hellena juga telah memenuhi janjinya, menjadi ibu dari anaknya. Hellena tak berpaling pada pria lain. Mereka hening kesunyian menjadi teman mereka lagi.

“Jadi, mereka?” tanya Min Ho penuh teka – teki. Matanya masih menatap Hellena. “Anakku? Anak kandungku, Hellena?”

Hellena menggangguk pelan. Min Ho meritikan air mata Hellena memang tak pernah mengingkari janji mereka di danau ini. Janji. Sedih. Pertemuan bahagia. Danau yang menjadi saksi cinta dan kesedihan mereka.

“Hellena.”

“Ya.”

“Aku mencintaimu.”

‘Aku tak pernah mengkhianatimu Hellena takdir yang menguji kita agar lebih kuat takdir yang membuat kita berpisah. Aku mencintaimu Hellena’

‘Min Ho, aku selalu mencintaimu itu janjiku. Aku tak pernah mengingkarinya.’

Lima tahun mereka berpisah umur mereka memang masih muda 25 dan 26. Namun cobaan yang membuat mereka dewasa. Kilauan senja itu membuat sepasang cincin perak bersilau. Cincin yang menjadi bukti bahwa Hellena tak melupakan Min Ho. Min Ho juga tak melupakan Hellena, karena disetiap napas tasbih Min Ho hanya untuk Hellena. ‘Hellena. Hellena. Hellena.’ Jarak antara meraka menipis, masih ada rasa canggung, namun rasa cinta dan rindu yang mendominasi perlahan tangan kekar Min Ho melingkar di pinggang Hellena. Sementara tangan Judo yang lain menuntun Hellena mendekatkan ke bibirnya. Bibir mereka bertemu, setelah lima tahun berpisah. Mereka berpegangan tangan dan berjalan meninggalkan danau karena senja telah tiba. Senyum keduanya terlukis kembali, senyum yang selama ini berganti tangis itu terlihat lagi.

“Kau tak ingin berkencan denganku, Hellena.”

“Maaf tidak, aku bukan Hellena yang dulu. Aku tak bisa berkencan denganmu.”

“Kau tak mencintaimu lagi?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku tak mungkin membiarkan anakku sendirian di rumah, sedangkan aku bersenang – senang.”

“Hei, mereka anakku juga, Hellena. Kita ajak mereka!”

“Kemana?”

“Ke warnet no 8 dan kantor urusan agama, kantor pencatatan sipil. Aku ingin menjadi ayah yang sesungguhnya untuk mereka, Hellena. Aku mencintaimu. Kau mencintaiku?”

“Aku mencintai dirimu. Dan-“

“Dan?”

“Anak kita.”                                 

Senja memang telah pergi tapi kini cinta mereka belum jua pergi cinta yang akan selalu ada dan nyata untuk mereka, karena ketegaran dan keikhlasan. Tuhan tak mengingkari takdir mereka untuk bertemu lagi.

 -Sekarang mereka bahagia selama kebahagiaan masih menjadi pilihan mereka.-

About pernakpernikbagusoke

Berfikir sebelum berbuat, Bertanggung jawab apa yang sudah diperbuat.. Karena Sejarah tak mengenal kata "Seandainya"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s